Selasa, 140709
Dzhoolimul li Nafsih, Muqtashidun, dan Tsaabiqum bil Khoeroot
Oleh: Mohamad Istihori
Allah SWT berfirman dalam surat Fatir ayat 32, "Tsumma awrotsnal kitaabal ladziinash thofainaa min 'ibaadinaa faminhum dzhoolimul linafsihi wa minhum muqtashidun wa minhum saabiqum bil khoerooti biidznillahi dzaalika huwal fadzlul kabiir."
Artinya "Kemudian kitab (al Quran) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar."
Ayat 32 surat 35 ini menjelaskan tentang tiga golongan manusia dalam menyikapi dan mengamalkan Al Quran. Sebelumnya Allah menjelaskan bahwa umat Nabi Muhammad SAW memiliki keunggulan dibandingkan umat nabi yang lain karena umat Nabi memiliki al Quran. Dengan bacaan yang sangat berkualitas bernama al Quran tersebut maka otomaticly umat Nabi menjadi umat yang diunggulkan dibandingkan umat Nabi sebelumnya.
Itulah mengapa kualitas manusia cenderung bergantung pada apa yang dibacanya. Meskipun kenyataannya tidak selalu demikian. Orang yang bacaanya berkualitas maka ia akan memiliki pemikiran yang berkualitas pula. Namun bila yang dibaca adalah bacaan yang penuh dengan kebohongan maka semakin tidak berkualitas pulalah pemikiran dan hidupnya.
Golongan pertama dari umat Nabi Muhammad dalam menyikapi dan mengamalkan al Quran adalah dhoolimul li nafsih, orang yang menzalimi dirinya sendiri. Golongan pertama ini adalah golongan yang lebih banyak melanggar perintah al Quran dan hanya sesekali saja mentaati aturan kehidupan yang ditetapkan dalam al Quran. Maka mereka disebut sebagai golongan yang menzalimi diri mereka sendiri.
Bagaimana tidak dikatakan menzalimi diri sendiri, padahal Allah sudah memberikan aturan dalam al Quran agar dirinya hidup bahagia dunia-akhirat, eh dia malah melanggar aturan al Quran. Maka meranalah jiwanya karena perbuatan dia sendiri.
Golongan kedua adalah muqtashidun, adalah mereka yang berada di level pertengahan. Dibilang pembangkan iya bukan. Dibilang orang yang taat iya juga nggak. Ketaatannya tidak maju tidak mundur. Ibadahnya cenderung statis, nggak ada kemajuan, dan berjalan di tempat.
Golongan ketiga adalah tsaabiqum bil khoeroot, mereka yang berlomba di dalam melaksanakan ketaatan menjalankan pedoman kehidupan yang ia pelajari dalam al Quran. Namun mereka bukanlah golongan egois yang hanya peduli sama diri mereka sendiri, mereka bukan golongan yang mau masuk surga sendiri.
Maka selain terus-menerus belajar memahami al Quran ia juga sedikit-sedikit mengajarkan al Quran kepada mereka yang memang membutuhkan sebagai sebuah aplikasi atas kepeduliannya untuk mengajak manusia agar berjalan di atas rel Tuhan yang bernama al Quran.
Kita mungkin sekarang masih berada di level muqtashidun, kita mungkin masih berada di level pertengahan dan bukan -insya Allah - termasuk ke golongan dzoolimul li nafsih, tapi kita juga tidak bisa menyombongkan diri begitu saja dengan mengaklaim bahwa kita sekarang sudah masuk golongan tsaabiqum bil khoiroot.
Dan, untuk mencapai tingkat tsaabiqum bil khoiroot kita harus mempelajari, mendalami, memahami, merenungkan, dan mengamalkan al Quran dengan sungguh-sungguh. Bagaimana kita bisa memahami al Quran lah wong memperlajarinya saja kita sambil main-main, tidak konsisten, dan setengah-setengah.
Selasa, 14 Juli 2009
Senin, 13 Juli 2009
Musik Kehidupan
Selasa, 140709
Musik Kehidupan
Oleh: Mohamad Istihori
Musik adalah kehidupan. Tanpa musik tak akan ada kehidupan. Kehidupan tanpa musik sama saja kematian. Hembusan angin adalah musik. Gemericik angin, suara petir yang bergemuruh, omelan istri yang cerewet, atau marahnya dosen killer adalah musik kehidupan.
"Mana bisa semua hal yang masuk telinga kita adalah musik yang bisa kita nikmati?"
Bisa! Sangat bisa. Semua tergantung bagaimana kita mengomposisikan semua itu menjadi harmonisasi yang mengalun dalam jiwa kita.
Manusia itukan kholifatun fil ardh, manusia adalah komposer kehidupan. Jadi hidupnya tidak bergantung pada keadaan. Namun keadaanlah yang bergantung padanya.
Maka saya sangat heran kepada orang yang mengharamkan musik. Mengapa musik diharamkan? Betulkah ia membuat orang lain lalai dari mengingat Allah? Bagi mereka yang tidak bisa mengkomposeri setiap bunyi yang bertamu ke telinganya, tentu saja musik bisa membuat ia lalai dari mengingat Allah.
Namun bagi mereka yang memang bisa mengkomposeri setiap bunyi, dari mana pun asalnya ia malah akan menjadi semakin dekat dengan Tuhan. Karena baginya justru dengan musik sendiri itulah ia bisa lebih mengenal Tuhannya.
So let's play your music, mainkan musikmu, susunlah nada-nada kehidupanmu, maka meskipun berisik kita bisa tetap asyik tanpa merasa terusik.
Musik Kehidupan
Oleh: Mohamad Istihori
Musik adalah kehidupan. Tanpa musik tak akan ada kehidupan. Kehidupan tanpa musik sama saja kematian. Hembusan angin adalah musik. Gemericik angin, suara petir yang bergemuruh, omelan istri yang cerewet, atau marahnya dosen killer adalah musik kehidupan.
"Mana bisa semua hal yang masuk telinga kita adalah musik yang bisa kita nikmati?"
Bisa! Sangat bisa. Semua tergantung bagaimana kita mengomposisikan semua itu menjadi harmonisasi yang mengalun dalam jiwa kita.
Manusia itukan kholifatun fil ardh, manusia adalah komposer kehidupan. Jadi hidupnya tidak bergantung pada keadaan. Namun keadaanlah yang bergantung padanya.
Maka saya sangat heran kepada orang yang mengharamkan musik. Mengapa musik diharamkan? Betulkah ia membuat orang lain lalai dari mengingat Allah? Bagi mereka yang tidak bisa mengkomposeri setiap bunyi yang bertamu ke telinganya, tentu saja musik bisa membuat ia lalai dari mengingat Allah.
Namun bagi mereka yang memang bisa mengkomposeri setiap bunyi, dari mana pun asalnya ia malah akan menjadi semakin dekat dengan Tuhan. Karena baginya justru dengan musik sendiri itulah ia bisa lebih mengenal Tuhannya.
So let's play your music, mainkan musikmu, susunlah nada-nada kehidupanmu, maka meskipun berisik kita bisa tetap asyik tanpa merasa terusik.
Banjir Kebencian
Senin, 130709
Banjir Kebencian
Oleh: Mohamad Istihori
Banjir air yang menimpa kota Jakarta setahun sekali sudah pasti membuat susah dan derita kehidupan penduduk ibu kota negara ini. Namun -disadari atau tidak- ada banjir lain yang kerap kali menimpa Jakarta, yaitu banjir kebencian.
Banjir ini lebih bahaya daripada banjir air. Contoh nyata banjir kebencian yang dialami masyarakat Jakarta sehari-hari misalnya, mereka yang mengendarai motor kerap membenci pengedara mobil, "Nih mobil ngalingin jalan gue aja sih."
Yang mengendarai mobil seringkali mengungkapkan kebencian mereka pada para pengendara motor dengan berkata, "Nih motor nyelap-nyelip aja seenaknya. Ntar kalo ketabrak nyalahin gue dah."
Yang miskin membenci yang kaya karena si kaya terus berfoya-foya tanpa peduli jerit kelaparan si miskin di sebelah perumahannya. Si kaya terus-menerus menyalahkan si miskin karena kendaraan mereka kerap hilang dan pencurinya selalu hilang di kampung si miskin.
Ketika ada orang pertama kali berbuat baik malah dimanfaatkan kebaikannya sehingga untuk berbuat baik lagi dia kapok karena toh ternyata ia hanya dimanfaatkan. Sehingga akan sering kita dengar ujaran, "Lu jadi orang baik-baik amat sih. Padahal udah berapa kali lu disakitin, dikhianatin, dan dikecewain."
Maka jangan heran kalau orang Jakarta sangat ragu kalau ada orang datang meminta bantuan kepadanya karena takut si yang minta tolong tidak benar-benar meminta tolong melainkan mau berbohong, memeras, atau memperkaya diri sendiri.
Unsur kebencian begitu mendominasi kehidupan masyarakat Jakarta. Paguyuban hilang. Semangat gotong-royong musnah. Sikap saling peduli tak ada lagi.
Tapi saya yakin masyarakat Jakarta masih memiliki hati nurani. Sehingga tidak ada kata menyerah untuk terus-menerus menyebarkan virus cinta dan perdamaian antara mereka. Selagi kita mau peduli dengan siapa saja yang ada di sekeliling kita, tidak cuek, dan tidak acuh maka kita akan menemukan kenyamanan hidup di Jakarta. Semoga..
Banjir Kebencian
Oleh: Mohamad Istihori
Banjir air yang menimpa kota Jakarta setahun sekali sudah pasti membuat susah dan derita kehidupan penduduk ibu kota negara ini. Namun -disadari atau tidak- ada banjir lain yang kerap kali menimpa Jakarta, yaitu banjir kebencian.
Banjir ini lebih bahaya daripada banjir air. Contoh nyata banjir kebencian yang dialami masyarakat Jakarta sehari-hari misalnya, mereka yang mengendarai motor kerap membenci pengedara mobil, "Nih mobil ngalingin jalan gue aja sih."
Yang mengendarai mobil seringkali mengungkapkan kebencian mereka pada para pengendara motor dengan berkata, "Nih motor nyelap-nyelip aja seenaknya. Ntar kalo ketabrak nyalahin gue dah."
Yang miskin membenci yang kaya karena si kaya terus berfoya-foya tanpa peduli jerit kelaparan si miskin di sebelah perumahannya. Si kaya terus-menerus menyalahkan si miskin karena kendaraan mereka kerap hilang dan pencurinya selalu hilang di kampung si miskin.
Ketika ada orang pertama kali berbuat baik malah dimanfaatkan kebaikannya sehingga untuk berbuat baik lagi dia kapok karena toh ternyata ia hanya dimanfaatkan. Sehingga akan sering kita dengar ujaran, "Lu jadi orang baik-baik amat sih. Padahal udah berapa kali lu disakitin, dikhianatin, dan dikecewain."
Maka jangan heran kalau orang Jakarta sangat ragu kalau ada orang datang meminta bantuan kepadanya karena takut si yang minta tolong tidak benar-benar meminta tolong melainkan mau berbohong, memeras, atau memperkaya diri sendiri.
Unsur kebencian begitu mendominasi kehidupan masyarakat Jakarta. Paguyuban hilang. Semangat gotong-royong musnah. Sikap saling peduli tak ada lagi.
Tapi saya yakin masyarakat Jakarta masih memiliki hati nurani. Sehingga tidak ada kata menyerah untuk terus-menerus menyebarkan virus cinta dan perdamaian antara mereka. Selagi kita mau peduli dengan siapa saja yang ada di sekeliling kita, tidak cuek, dan tidak acuh maka kita akan menemukan kenyamanan hidup di Jakarta. Semoga..
Minggu, 12 Juli 2009
Kelembutan, Keperkasaan, dan Kebijaksanaan
Ahad, 120709
Kelembutan, Keperkasaan, dan Kebijaksanaan
Oleh: Mohamad Istihori
Lambang wanita adalah kelembutan. Sedangkan lambang lelaki keperkasaan. Namun demikian jangan sekali-kali menyamaratakan antara kelembutan dengan kelemahan. Kelembutan dan kelemahan adalah dua variabel yang berbeda dan sama sekali tidak ada hubungannya.
Maka wanita yang lembut bukan berati lemah. Wanita dengan segala potensi kelembutan yang Allah karunikan kepadanya, kalau ia mau memaksimalkan kelembutannya itu justru itu bisa menjadi kekuatan hidupnya dan bisa menjadi "senjata utama" yang bisa ia manfaatkan untuk mengalahkan dan menaklukan siapa saja.
Wanita lemah tidak semua lembut. Ada wanita yang "kasar", judes, galak, dan sangar (wah pokoknya pas banget kalau dia masuk ROMUSA alias "Rombongan Muka Sangar") namun itu semua justru ia lakukan untuk menutup-nutupi kelemahannya.
Dan, keperkasaan tidak selamanya merupakan keunggulan. Jika keperkasaan yang dimiliki lelaki tidak disikapi dengan kerendahan hati maka itu justru menunjukkan kekerdilan karakter dan pribadinya.
Jika kelembutan dan keperkasaan ini bisa dikombinasikan dengan ukuran dan takaran yang pas maka kita akan menemukan kebijaksaan. Maka wanita yang lembut sudah semestinya belajar tentang keperkasaan lelaki. Dan, lelaki yang -katanya- perkasa juga harus belajar dari kelembutan wanita.
Jika setiap wanita mau belajar dengan setiap lelaki, dan begitu pun sebaliknya, setiap lelaki mau belajar kepada setiap wanita maka kehidupan manusia akan dipenuhi dengan kebijaksanaan.
Kehidupan yang penuh dengan kebijaksanaan akan melahirkan perdamaian dan kenyamanan hidup. Maka tidak heran kalau lelaki dan wanita seperti ini kelak dipersatukan Allah dalam suatu ikatan abadi yang bernama pernikahan maka ia akan sangat mudah untuk mengaplikasikan rumus sakinah, mawaddah, dan rohmah dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Kelembutan, Keperkasaan, dan Kebijaksanaan
Oleh: Mohamad Istihori
Lambang wanita adalah kelembutan. Sedangkan lambang lelaki keperkasaan. Namun demikian jangan sekali-kali menyamaratakan antara kelembutan dengan kelemahan. Kelembutan dan kelemahan adalah dua variabel yang berbeda dan sama sekali tidak ada hubungannya.
Maka wanita yang lembut bukan berati lemah. Wanita dengan segala potensi kelembutan yang Allah karunikan kepadanya, kalau ia mau memaksimalkan kelembutannya itu justru itu bisa menjadi kekuatan hidupnya dan bisa menjadi "senjata utama" yang bisa ia manfaatkan untuk mengalahkan dan menaklukan siapa saja.
Wanita lemah tidak semua lembut. Ada wanita yang "kasar", judes, galak, dan sangar (wah pokoknya pas banget kalau dia masuk ROMUSA alias "Rombongan Muka Sangar") namun itu semua justru ia lakukan untuk menutup-nutupi kelemahannya.
Dan, keperkasaan tidak selamanya merupakan keunggulan. Jika keperkasaan yang dimiliki lelaki tidak disikapi dengan kerendahan hati maka itu justru menunjukkan kekerdilan karakter dan pribadinya.
Jika kelembutan dan keperkasaan ini bisa dikombinasikan dengan ukuran dan takaran yang pas maka kita akan menemukan kebijaksaan. Maka wanita yang lembut sudah semestinya belajar tentang keperkasaan lelaki. Dan, lelaki yang -katanya- perkasa juga harus belajar dari kelembutan wanita.
Jika setiap wanita mau belajar dengan setiap lelaki, dan begitu pun sebaliknya, setiap lelaki mau belajar kepada setiap wanita maka kehidupan manusia akan dipenuhi dengan kebijaksanaan.
Kehidupan yang penuh dengan kebijaksanaan akan melahirkan perdamaian dan kenyamanan hidup. Maka tidak heran kalau lelaki dan wanita seperti ini kelak dipersatukan Allah dalam suatu ikatan abadi yang bernama pernikahan maka ia akan sangat mudah untuk mengaplikasikan rumus sakinah, mawaddah, dan rohmah dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Jumat, 10 Juli 2009
Anak Laut
Kepulauan Seribu, Jum'at, 100709
Anak Laut
Oleh: Mohamad Istihori
Aku anak laut. Sehari-hari pulang-pergi dari satu pulau ke pulau. Dari Pulau Pramuka, Pulau Air, Pulau Semak Daun, dan pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu.
Ikan adalah sahabat karib kami. Apapun jenisnya. Laut adalah taman tempat kami bermain dan bersendau gurau dengan gelombang ombak.
Di saat orang-orang kota itu ketakutan ketika perahu kayu bergoyang, kami justru merasa gembira. Goyangan ombak seperti goyangan ayunan seperti kami tidur ketika kecil dulu.
Di saat orang-orang kota direpotkan dengan pelampung, kaca mata renang, dan selang untuk bernafas di dalam air kami cukup dengan peralatan seadanya untuk mengarungi lautan luas.
Sungguh air semilir di tengah lautan membuat kami tertidur nyenyak. Sedangkan orang-orang kota itu boro-boro bisa tidur, bernafas saja mereka sesak menahan ngeri mereka.
Laut kami adalah hamparan kekayaan alam yang tak terkirakan. Ombak kami adalah lambaian persaudaraan yang penuh dengan kedamaian. Kepada siapa saja kami meminta, jagalah kelestarian laut kami. Jangan dikotori, jangan dieksploitasi, dan jangan dimakan sendiri.
Laut kami adalah lautmu juga, laut kita bersama. Adalah menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai anak bangsa untuk menjaga dan tetap melestarikannya.
Anak Laut
Oleh: Mohamad Istihori
Aku anak laut. Sehari-hari pulang-pergi dari satu pulau ke pulau. Dari Pulau Pramuka, Pulau Air, Pulau Semak Daun, dan pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu.
Ikan adalah sahabat karib kami. Apapun jenisnya. Laut adalah taman tempat kami bermain dan bersendau gurau dengan gelombang ombak.
Di saat orang-orang kota itu ketakutan ketika perahu kayu bergoyang, kami justru merasa gembira. Goyangan ombak seperti goyangan ayunan seperti kami tidur ketika kecil dulu.
Di saat orang-orang kota direpotkan dengan pelampung, kaca mata renang, dan selang untuk bernafas di dalam air kami cukup dengan peralatan seadanya untuk mengarungi lautan luas.
Sungguh air semilir di tengah lautan membuat kami tertidur nyenyak. Sedangkan orang-orang kota itu boro-boro bisa tidur, bernafas saja mereka sesak menahan ngeri mereka.
Laut kami adalah hamparan kekayaan alam yang tak terkirakan. Ombak kami adalah lambaian persaudaraan yang penuh dengan kedamaian. Kepada siapa saja kami meminta, jagalah kelestarian laut kami. Jangan dikotori, jangan dieksploitasi, dan jangan dimakan sendiri.
Laut kami adalah lautmu juga, laut kita bersama. Adalah menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai anak bangsa untuk menjaga dan tetap melestarikannya.
Rabu, 08 Juli 2009
Lautan dan Langit Cinta
Kamis, 090709
Lautan dan Langit Cinta
Oleh: Mohamad Istihori
Cinta adalah lautan ilmu. Begitu dalam dan penuh dengan kekayaan alam. Siapa saja bisa menyelaminya. Tapi kalau kau tidak punya ilmu yang cukup tentangnya kau akan tenggelam dalam gelombangnya.
Cinta adalah langit cakrawala pengetahuan. Siapa saja bisa melihat dan merasakannya. Tapi tidak semua orang bisa menggapai dan meraih hakikatnya.
Untuk meraih hakikat cinta kita membutuhkan sepasang sayap cinta yang bernama kekasih. Pasangan hidup kitalah "yang menggengam dan membawa" kita menuju hidup yang sempurna.
Terima kasih cinta telah kau buka kedua mata. Telah kau hidangkan keindahan dan ilmu pengetahuan dalam hidup kami. Tanpa hadirmu kami tidak akan mampu memaknai hidup yang kami jalani.
Terima kasih cinta karena kau telah setia menemani hidup kami. Kau beri kami warna yang kombinasinya lebih indah dari taman bunga di belahan dunia mana pun.
Lautan dan Langit Cinta
Oleh: Mohamad Istihori
Cinta adalah lautan ilmu. Begitu dalam dan penuh dengan kekayaan alam. Siapa saja bisa menyelaminya. Tapi kalau kau tidak punya ilmu yang cukup tentangnya kau akan tenggelam dalam gelombangnya.
Cinta adalah langit cakrawala pengetahuan. Siapa saja bisa melihat dan merasakannya. Tapi tidak semua orang bisa menggapai dan meraih hakikatnya.
Untuk meraih hakikat cinta kita membutuhkan sepasang sayap cinta yang bernama kekasih. Pasangan hidup kitalah "yang menggengam dan membawa" kita menuju hidup yang sempurna.
Terima kasih cinta telah kau buka kedua mata. Telah kau hidangkan keindahan dan ilmu pengetahuan dalam hidup kami. Tanpa hadirmu kami tidak akan mampu memaknai hidup yang kami jalani.
Terima kasih cinta karena kau telah setia menemani hidup kami. Kau beri kami warna yang kombinasinya lebih indah dari taman bunga di belahan dunia mana pun.
Sabtu, 04 Juli 2009
Tuhan Engkau Dikucilkan
Bandar Lampungg, Kamis, 020709
Tuhan Engkau Dikucilkan
Oleh: Mohamad Istihori
Sungguh sebuah kejadian yang sangat miris dan menyedihkan. Dalam sebuah pusat perbelanjaan, sebuah mushollah dihancurkan, tempat karokean pun didirikan. Dalam alam pemikiran orang sekarang mendirikan mushollah tidak akan mendatangkan keuntungan. Lebih menggiurkan kalau mendirikan tempat karokean atau tempat hiburan.
Mushollah tempat kami menyembah kini telah pindah ke basement. Ruangannya sangat sempit. Hanya mampu menampung maksimal satu imam dan enam makmum. Setiap yang sholat di situ pasti akan merasa tidak nyaman. Selain karena tempatnya kini berada tepat di sebelah parkiran sehingga berisik, kami pun merasa sangat kegerahan, kepanasan, dan yang pastinya keringetan. Belum lagi bau aroma toilet yang sangat menyengat.
Kalau pada suatu hari anda diberi anugerah oleh Tuhan untuk berkunjung ke tempat tinggal saudara-saudara kita yang ada di desa sana. Maka perhatikanlah mushollah dan masjid di sana. Saudara-saudara kita yang di desa, sebagaimana yang kerap saya jumpai di beberapa daerah, meski pendapatan mereka sudah pasti tidak lebih besar daripada pendapatan kita yang tinggal di kota namun kampung mereka ada mushollah atau masjid yang layak, nyaman, dan indah.
Setiap pagi dan sore penduduknya meramaikan dengan segala aktivitas ibadah dengan penuh kekhusyuan dan tanpa pamrih apa-apa. Tidak seperti tempat ibadah kita di kota yang penuhnya hanya ketika Ramadhan saja. Begitu Ramadhan berlalu masjid dan mushollah pun sepi kembali kayak kuburan. Yang datang paling-paling aki-aki sama nini-nini. Sedangkan yang mudanya? Entah iya pada ke mana?
Sebagian berkata, “Kita masih muda masa udah sibuk di mushollah? Nantilah kalo udah pensiun dan tua baru deh saya mau jadi pengurusnya.”
Dalam kehidupan manusia Tuhan begitu sering dikucilkan. Dianggap tidak penting. Kecuali ketika manusia membutuhkan demi reputasi diri, memperoleh jabatan/kekuasaan, kehormatan, atau saat menikah barulah ramai manusia meminta kepada Tuhan, berkunjung ke tempat-tempat ibadah yang mereka kira Tuhan hanya ada di sana, atau berkunjung ke beberapa rumah atau pondok pesantren kiai-kiai besar yang ada di daerah namun setelah mereka mendapat apa yang mereka cari lalu Pak Kiai ditinggalkan dan dilupakan begitu saja.
Untungnya Tuhan adalah Zat yang Maha Sabar sehingga pusat perbelanjaan itu tidak serta-merta Ia hancurkan. Tuhan begitu sayang kepada kita. Dia selalu memberi kesempatan kepada siapa saja dari hamba-Nya yang mau mendekat kepada-Nya.
Tuhan begitu sabarnya Engkau. Meski kami kucilkan, Kau tetap menyayangi kami, menyantuni kami, tak berkurang sedikit pun rizki Kau beri. Kami saja yang lupa mensyukuri.
Kami sungguh tak layak Kau sebut sebagai hamba-Mu (pengabdi-Mu). Derajat kami masihlah pedagang. Yang menjalin hubungan berdasarkan selera, untung-rugi, enak-nggak enak, dan suka-tak suka.
Atau level keislaman kami masih level budak yang menjalankan segala perintah-Mu dan menjauhi segala larangan-Mu hanya berdasarkan rasa takut kami akan siksa-Mu di dunia dan apalagi di akhirat.
Tuhan Engkau Dikucilkan
Oleh: Mohamad Istihori
Sungguh sebuah kejadian yang sangat miris dan menyedihkan. Dalam sebuah pusat perbelanjaan, sebuah mushollah dihancurkan, tempat karokean pun didirikan. Dalam alam pemikiran orang sekarang mendirikan mushollah tidak akan mendatangkan keuntungan. Lebih menggiurkan kalau mendirikan tempat karokean atau tempat hiburan.
Mushollah tempat kami menyembah kini telah pindah ke basement. Ruangannya sangat sempit. Hanya mampu menampung maksimal satu imam dan enam makmum. Setiap yang sholat di situ pasti akan merasa tidak nyaman. Selain karena tempatnya kini berada tepat di sebelah parkiran sehingga berisik, kami pun merasa sangat kegerahan, kepanasan, dan yang pastinya keringetan. Belum lagi bau aroma toilet yang sangat menyengat.
Kalau pada suatu hari anda diberi anugerah oleh Tuhan untuk berkunjung ke tempat tinggal saudara-saudara kita yang ada di desa sana. Maka perhatikanlah mushollah dan masjid di sana. Saudara-saudara kita yang di desa, sebagaimana yang kerap saya jumpai di beberapa daerah, meski pendapatan mereka sudah pasti tidak lebih besar daripada pendapatan kita yang tinggal di kota namun kampung mereka ada mushollah atau masjid yang layak, nyaman, dan indah.
Setiap pagi dan sore penduduknya meramaikan dengan segala aktivitas ibadah dengan penuh kekhusyuan dan tanpa pamrih apa-apa. Tidak seperti tempat ibadah kita di kota yang penuhnya hanya ketika Ramadhan saja. Begitu Ramadhan berlalu masjid dan mushollah pun sepi kembali kayak kuburan. Yang datang paling-paling aki-aki sama nini-nini. Sedangkan yang mudanya? Entah iya pada ke mana?
Sebagian berkata, “Kita masih muda masa udah sibuk di mushollah? Nantilah kalo udah pensiun dan tua baru deh saya mau jadi pengurusnya.”
Dalam kehidupan manusia Tuhan begitu sering dikucilkan. Dianggap tidak penting. Kecuali ketika manusia membutuhkan demi reputasi diri, memperoleh jabatan/kekuasaan, kehormatan, atau saat menikah barulah ramai manusia meminta kepada Tuhan, berkunjung ke tempat-tempat ibadah yang mereka kira Tuhan hanya ada di sana, atau berkunjung ke beberapa rumah atau pondok pesantren kiai-kiai besar yang ada di daerah namun setelah mereka mendapat apa yang mereka cari lalu Pak Kiai ditinggalkan dan dilupakan begitu saja.
Untungnya Tuhan adalah Zat yang Maha Sabar sehingga pusat perbelanjaan itu tidak serta-merta Ia hancurkan. Tuhan begitu sayang kepada kita. Dia selalu memberi kesempatan kepada siapa saja dari hamba-Nya yang mau mendekat kepada-Nya.
Tuhan begitu sabarnya Engkau. Meski kami kucilkan, Kau tetap menyayangi kami, menyantuni kami, tak berkurang sedikit pun rizki Kau beri. Kami saja yang lupa mensyukuri.
Kami sungguh tak layak Kau sebut sebagai hamba-Mu (pengabdi-Mu). Derajat kami masihlah pedagang. Yang menjalin hubungan berdasarkan selera, untung-rugi, enak-nggak enak, dan suka-tak suka.
Atau level keislaman kami masih level budak yang menjalankan segala perintah-Mu dan menjauhi segala larangan-Mu hanya berdasarkan rasa takut kami akan siksa-Mu di dunia dan apalagi di akhirat.
Langganan:
Postingan (Atom)