Mulai sekarang carilah apa yang benar,
bukan siapa yang benar, supaya kita terlatih untuk tidak gampang mengatakan
kamu salah, mereka salah, kamu sesat, mereka sesat. [CakNun.com]
Jumat, 20 Februari 2015
Selasa, 10 Februari 2015
Sekolah Adalah Hal Biasa yang Manusiawi
Oleh:
EAN
Bagi
Pak Toto sekolah adalah hal biasa yang manusiawi. Hal yang tidak biasa justru
dipertunjukkan oleh sebagian besar sekolah-sekolah kita hari-hari ini. Antara
lain:
(1) Desain
sekolah seperti penjara (gedung terisolasi dari masyarakat dengan pagar tinggi
dan penjagaan ketat dari Satpam)
(2) Belajar
materi yang tidak berkaitan dengan kebutuhan hidup riil anak didik dan banyak
membebani
(3) Pembelajaran
banyak yang tidak membangun nalar kritis dan rasa ingin tahu serta keberanian
anak didik
(4) Biaya
sekolah mahal.
Belajarlah Sejarah Agar Tidak Terus Dijajah
[Pesan
Cak Nun untuk Siswa Indonesia]
Penyelenggaraan
Festival Budaya dan Bahasa Internasional (FBBI) tanggal 19 Maret 2014 di Sasono
Langen Budoyo, tampak semakin bermakna dengan hadirnya budayawan Indonesia,
Emha Ainun Nadjib. Budayawan yang sering disapa Cak Nun ini hadir memenuhi
undangan panitia untuk menerima penghargaan sebagai pelaku budaya yang telah
banyak memberikan kontribusinya terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia.
Dalam
kesempatan yang berharga itu, setelah menerima penghargaan, Cak Nun menyampaikan
sambutannya dengan memberikan pesan terhadap hadirin yang memadati ruang Sasono
Langen Budoyo, terutama para siswa sebagai audiens acara malam itu. Cak Nun
menyampaikan pesan buat para siswa Indonesia. Yang pertama, saya merasa tidak selayaknya mendapatkan kehormatan ini,
karena posisi saya bersama seluruh orang tua murid di berbagai sekolah mitra
kerja Pasiad di Indonesia, serta bersama seluruh bangsa Indonesia, berada pada
posisi untuk justru menjunjung dan berterima kasih kepada Pasiad dan seluruh
bangsa Turki.
Menomorsatukan Allah
Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari karena kita masih tergolong orang-orang
yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajat rendah. Takut tak memperoleh
pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak
bisa menghibur istri dan mertua, takut dipecat, takut tak naik pangkat. Masya Allah, sungguh kita
masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah!
[Emha Ainun
Nadjib]
Sumber: Merchandise
online Jamaah Maiyah Tanah Air [FB]
Minggu, 08 Februari 2015
Jangan Marah Ama Hujan Plur
Pagi ini, Senin, 9 Januari 2015. Jam di dinding menunjukkan pukul 06.30 WIB. Mat Sempul pun bergegas untuk bersiap ngantor. Namun di luar hujan turun dengan begitu "hemat namun bergaransi", kecil tapi awet. Melihat Cakung (Cuaca Mendukung) untuk bermalas-malasan muncullah Kiai Jihad menyapanya, "Loh Plur kenapa belum juga berangkat kerja?"
"Sialan nih hujan Kiai. Jadi malas saya kalo kayak gini cuacanya," keluh Mat Semplur.
Kiai Jihad, "Eh Plur jangan marah ama hujan. Hujan itu turun juga ada yang nyuruh. Hujan turun bukan atas kehendaknya sendiri. Hujan turun disuruh Allah. Jadi kalo lu marah ama hujan yang cuma suruhan itu sebenarnya lu sedang marah, benci, dan nge-gerundel sama Tuhan.
Tuhan itu bisa sangat sayang pada kita hanya karena ungkapan syukur kita terhadap hal yang sepele. Begitu juga Tuhan bisa juga sangat marah dan menutup semua pintu rezeki kita atas keluhan yang kita anggap remeh-temeh. Dan kedua peristiwa itu bisa sangat mudah terjadi terutama saat hujan turun.
Manusia itu memang sangat susah untuk ridho atas segela kehendak Allah. Sedangkan Allah begitu mudahnya untuk ridho atas segala perilaku, tindakan, dan tingkah laku manusia.
Kita sekarang sedang berada pada zaman manusia yang begitu gampang ngeluh dan protes atas kehendak Allah. Kita itu maunya Allah yang selalu nurutin kemauan kita. Dan di saat yang sama padahal kita begitu sulit untuk menuruti kemauan Allah.
Untuk nurutin perintah Allah pun kita tidak begitu saja nerima. Kita harus memperhitungkan apa manfaatnya, khasiatnya, untung-ruginya, dan perolehan materinya. Kalo kira-kira kurang menguntungkan secara materi maka sirnalah semangat kita untuk taat pada Allah. Tapi kalo menurut perhitungan kita taat pada Allah itu bisa mendatangkan keuntungan materi yang lumayan maka muncullah gairah kita untuk melaksanakan ketaatan tersebut.
Ada lagi sekelompok manusia yang berusaha dengan sekuat tenaga menghalalkan sesuatu yang telah jelas-jelas dilarang Allah hanya karena untuk mendapatkan kesembuhan. Mereka berargumentasi bahwa apa yang telah Allah ciptakan tidaklah sia-sia. Jadi meski haram harus dimanfaatkan. Maka beramai-ramailah mereka melanggar aturan Allah tersebut dengan berlandaskan pada khasiat dan manfaat dunia atas sesuatu yang telah Allah larang itu."
Setelah mendapatkan masukan dari Kiai Jihad, Mat Semplur pun berangkat dengan hati penuh kegembiraan ditemani guyuran hujan sampai tempat kerjanya.
"Sialan nih hujan Kiai. Jadi malas saya kalo kayak gini cuacanya," keluh Mat Semplur.
Kiai Jihad, "Eh Plur jangan marah ama hujan. Hujan itu turun juga ada yang nyuruh. Hujan turun bukan atas kehendaknya sendiri. Hujan turun disuruh Allah. Jadi kalo lu marah ama hujan yang cuma suruhan itu sebenarnya lu sedang marah, benci, dan nge-gerundel sama Tuhan.
Tuhan itu bisa sangat sayang pada kita hanya karena ungkapan syukur kita terhadap hal yang sepele. Begitu juga Tuhan bisa juga sangat marah dan menutup semua pintu rezeki kita atas keluhan yang kita anggap remeh-temeh. Dan kedua peristiwa itu bisa sangat mudah terjadi terutama saat hujan turun.
Manusia itu memang sangat susah untuk ridho atas segela kehendak Allah. Sedangkan Allah begitu mudahnya untuk ridho atas segala perilaku, tindakan, dan tingkah laku manusia.
Kita sekarang sedang berada pada zaman manusia yang begitu gampang ngeluh dan protes atas kehendak Allah. Kita itu maunya Allah yang selalu nurutin kemauan kita. Dan di saat yang sama padahal kita begitu sulit untuk menuruti kemauan Allah.
Untuk nurutin perintah Allah pun kita tidak begitu saja nerima. Kita harus memperhitungkan apa manfaatnya, khasiatnya, untung-ruginya, dan perolehan materinya. Kalo kira-kira kurang menguntungkan secara materi maka sirnalah semangat kita untuk taat pada Allah. Tapi kalo menurut perhitungan kita taat pada Allah itu bisa mendatangkan keuntungan materi yang lumayan maka muncullah gairah kita untuk melaksanakan ketaatan tersebut.
Ada lagi sekelompok manusia yang berusaha dengan sekuat tenaga menghalalkan sesuatu yang telah jelas-jelas dilarang Allah hanya karena untuk mendapatkan kesembuhan. Mereka berargumentasi bahwa apa yang telah Allah ciptakan tidaklah sia-sia. Jadi meski haram harus dimanfaatkan. Maka beramai-ramailah mereka melanggar aturan Allah tersebut dengan berlandaskan pada khasiat dan manfaat dunia atas sesuatu yang telah Allah larang itu."
Setelah mendapatkan masukan dari Kiai Jihad, Mat Semplur pun berangkat dengan hati penuh kegembiraan ditemani guyuran hujan sampai tempat kerjanya.
Sabtu, 07 Februari 2015
Buku Sejati “Si Anak Jadah”
Oleh MUHAMMAD AINUN NADJIB
Gus Blero pasti bukan “nama
materiil”nya, melainkan potret yang diambil oleh aspirasi sejatinya terhadap
“materi kehidupan” yang mengepungnya dan yang melihat kesejatian itu sebagai
nada “blero”. Mainstream nada yang dikurun ini sedang berlangsung (bukan sekedar
dekade atau era, karena berlangsung terlalu berkepanjangan), di wilayah apapun:
melihat isi buku ini sebagai sesuatu yang fals, melenceng, tidak populer, tidak
marketable, dan “jadul” (seakan-akan
kebudayaan, peradaban, Negara, sistem, yang sedang merajalela ini punya masa
depan, padahal sesungguhnya wallahi
ia sedang berada dipuncak kehancurannya, bahkan untuk sebagian hal: di gerbang
kemusnahannya).
Di seluruh permukaan bumi ummat manusia
menjalani kehidupan dengan pilihan yang paling tidak berkwalitas secara nilai,
paling sempit secara ruang, paling pendek secara waktu, paling nadir secara
keselamatan, paling dungu secara pikiran, dan paling gelap secara ruh.
Manusia Indonesia adalah yang paling
parah: alam dan kebudayaannya dianugerahi Tuhan kelimpahan nada dan nuansa,
tetapi mereka memilih hentakan-hentakan pendek orang narkoba yang sakau.
Manusia dan jagat rohaniahnya dihampari Tuhan kekayaan langit, firman-firman
cinta, ayat-ayat ilmu, hujan-hujan deras keberkahan, serta beribu janji gaib kemesraan kasih sayang Maha
Pencipta, tapi mereka memilih kekerdilan mental, budaya receh keuangan,
kedunguan materialisme, rendah diri eksistensialisme, kebodohan pencitraan,
kepalsuan diri, serta menyerahkan diri pada harga kemanusiaan yang terlalu
murah, sehingga lebih bermanfaat kalau ketika terlibat perjanjian dengan Allah
sebelum dilahirkan dulu mereka memilih menjadi tanaman, hewan, atau bebatuan.
Bangsa Indonesia adalah ummat manusia
yang disayang Tuhan dengan ditaburi cakrawala hikmah, pancaran mutiara Kitab
Suci, selalu dibukakan gerbang rahasia langit, tetapi mereka memilih berdagang
di pasar materi picisan, menggadaikan martabat ahsanu-taqwim-nya dengan uang receh, berjualan surban, peci,
serban, labelling Kiai, Ustadz, Habib, Gus. Sehingga menyingkirlah semua Kiai
sejati, Ustadz sejati, Habib, dan Gus
sejati, karena Allah memelihara maqam derajat mereka dengan rasa jijik dan
kesedihan yang mendalam atas semakin memudarnya kemanusiaan, mendangkalnya
nilai, dan menyempitnya pandangan.
Kamis, 05 Februari 2015
Langganan:
Postingan (Atom)
