Rabu, 30 September 2009

Sepi, Sunyi, Sendiri

Cibubur, Rabu, 30.09.2009

Sepi, Sunyi, Sendiri

Oleh: Mohamad Istihori

Kita boleh saja merasa sepi tapi jangan sampai merasa sunyi. Ada perbedaan mendasar antara sepi dengan sunyi.

Kalau sepi adalah kesendirian namun kita yakin dalam jangka waktu yang tidak lama akan ramai lagi dan akan banyak orang kembali.

Sedangkan sunyi adalah kesendirian abadi. Di mana kita berjalan tanpa ada satu orang pun yang bersedia menemani.

Orang yang merasa kesepian akan hilang rasa sepinya begitu datang keramaian atau dia mendatangi kerumunan orang.

Untuk memperoleh sepi kita butuh usaha untuk benar-benar jauh dari keramaian. Kita bisa pergi ke goa, gunung, hutan belantara, atau mengunci dan mengurung diri dalam kamar.

Karena kesepian sangat ditentukan oleh faktor yang berada di luar diri kita.

Sedangkan orang yang kesunyian tetap akan merasa sendiri meski ia berada dalam di tengah-tengah keramaian.

Untuk memperoleh rasa sunyi kita tidak harus bercapek-capek pergi ngumpet ke dalam goa, gunung, atau mengunci dan mengurung diri dalam kamar.

Sehingga untuk mendapatkan kesunyian kita menjadi tidak bergantung pada keadaan di luar diri kita.

Karena faktor utama kesunyian adalah segala faktor dan unsur yang ada di dalam diri kita. Rasa sunyi juga sangat dipengaruhi dari kecanggihan kita untuk mengolah keadaan, merespon, menghikmahi, dan mengambil pelajaran darinya.

Rosulullah saw pernah bersabda: Bada al islaamu ghoriiban saya'uudu ghoriiban kamaa bada-a.

"Awal kedatangan Islam itu aneh/asing dan akan datang suatu zaman di mana Islam kembali dianggap aneh/asing sebagaimana awal kedatangannya."

Kalau ada seseorang ingin benar-benar menerapkan nilai-nilai Islam, nggak usah jauh-jauh sampai tingkat negara, ini kita bicarakan dulu pada tingkat individu.

Maka kita harus siap menjadi orang asing yang dianggap aneh dan bersiaplah merasa sunyi karena tak akan ada satu orang pun yang akan benar-benar siap menemani perjalanan dan petualangan hidup kita.

Islam tidak akan pernah sepi. Bahkan saat ini berbondong-bondong orang memeluknya, berduyun-duyun orang mempelajari Islam, beribu-ribu lembaga pendidikan Islam dari tingkat PAUD sampai perguruan tinggi didirikan.

Tapi bagi siapa saja yang mau istiqomah dan konsisten menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-harinya maka bersiaplah untuk menjadi orang asing yang aneh yang berjalan dalam kesunyian.

Karena nilai Islam akan selalu bertentangan dengan nilai kebiasaan hidup yang selama ini kita jalani sehari-hari.

Contoh kecil misalnya, dalam Islam diwajibkan sholat tapi apa semua orang yang mengaku Islam merasa terpanggil untuk sholat? Maka bagi yang rajin sholat bersiaplah merasa sunyi hidupnya.

Dalam Islam kita harus hidup jujur. Tapi nilai dan budaya hidup sehari-hari kita mengajarkan dengan sangat canggih bahwa kalau hidup itu nggak usah terlalu jujur.

Iya bohong-bohong dikit nggak apa-apalah. Maka bagi orang yang jujur bersiaplah merasakan kesunyian yang mendalam saat menjalani kehidupan di dunia ini.

Maka jangan heran kalau kemudian lahir prinsip, "Yang haram aja susah nyarinya. Apa lagi yang halal."

"Akhirnya ku tempuh.
Jalan yang sunyi.
Mendendangkan lagu bisu.
Sendiri di lubuk hati.
Puisi yang ku sembunyikan.
Dari kata-kata.
Cinta yang tak kan ku temukan
Bentuknya.."
(Emha Ainun Nadjib)

Atau kalau kata Soe Hok Gie, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan."

Nyari Gara-gara, Nyari-nyari Alesan, dan Nyari Masalah

Cibubur, Rabu, 30.09.2009

Nyari Gara-gara, Nyari-nyari Alesan, dan Nyari Masalah

Oleh: Mohamad Istihori

Nyari gara-gara, nyari-nyari alesan, dan nyari masalah adalah salah satu "makanan favorit", sejenis "makanan kecil/makanan ringan/cemilan", atau "snack-nya" masyarakat ibu kota, khususnya Jakarta atau kota-kota besar lainnya.

Tiga hal tersebut merupakan makanan yang nggak boleh kelewat satu hari pun, karena kalau kelewat mereka bisa kurang bersemangat hidupnya dan tidak lagi bergairah bekerjanya.

Mereka bisa nyari gara-gara dengan, misalnya, ngas-gas motor saat lampu merah untuk menunjukkan siapa kita sebenarnya, agar orang melihat betapa kerennya penampilan kita dengan motor kita.

Seberapa power yang kita miliki, seberapa kuasanya kita di jalan raya, atau untuk mancing pengedara motor yang lain untuk nge-track dengan kita.

Bisa juga kita halang-halangi motor lain yang hendak mendahului kita. Dengan harapan motor yang mau mendahului kita itu terpancing kemarahannya, untung-untung kemudian bisa balapan atau bahkan bertengkar dengannya.

"Jajanan wajib" kita yang kedua adalah cari-cari alasan agar kemauan nafsu kita mendapatkan pembenaran sesuai dengan pengetahuan yang kita miliki.

Semakin tinggi pendidikan kita maka semakin canggih alasan yang bisa kita buat untuk pembenaran.

Atau pendidikan kita nggak usah tinggi, asalkan kita rajin menggali celah hukum yang berlaku maka kita bisa berlaku seenak udel kita tanpa ada pihak yang bisa ngelarang-larang.

Produk dari "jajanan kecil" berupa nyari-nyari alesan ini bisa dosa menjadi terasa tak berdosa lagi, tak ada lagi rasa takut dan malu kita atas perbuatan maksiat yang kita lakukan.

Bahkan kita bisa dengan bangga menceritakan kepada teman-teman kita sudah berapa jenis narkoba yang sudah kita konsumsi selama ini atau sudah berapa banyak tempat-tempat pelacuran, tempat dugem, kafe remang-remang, dan diskotik yang sudah kita kunjungi.

Dan, ketiga belum lengkap rasanya hidup di kota besar dan metropolitan seperti Jakarta ini kalau kita belum pernah merasakan bagaimana asyiknya nyari masalah.

Agaknya nyari masalah ini mirip dengan nyari gara-gara. Tapi sesungguhnya ia sangat berbeda. Kalau nyari gara-gara itu baru tingkat bercanda atau levelnya masih main-main.

Tapi kalau sudah nyari masalah ini sudah sangat serius. Dampaknya bisa tawuran antar kampung, antar warga, atau antar individu.

Gatel banget rasanya tangan kita ini kalau sehari aja tidak nonjok orang. Jiwa orang yang suka nyari masalah adalah jiwa seorang pendekar bela diri yang semestinya hidup di zaman penjajahan dulu.

Tapi Allah menganugerahkannya kepada kehidupan kita yang sudah modern, penuh toleransi, kelembutan, dan kasih sayang ini untuk menguji seberapa sabarkah akal dan hati kita untuk menghadapinya?

Karena kalau emosi amarah kita terpancing sedikit saja olehnya itu berarti kita sama gilanya dengan dia, sama stres dan error-nya dengan dia.

Maka semestinya kalau ada Festival Makanan Nusantara saya sangat berharap ketiga "makanan kecil" tersebut bisa diikutsertakan. Saya yakin seyakin-yakinnya, haqqul yaqin, bukan lagi 'ainul yaqin bahwa ketiga makanan tersebut menjadi juaranya.

Karena sudah terbukti dengan sangat jelas bahwa ketiga makanan tersebut sudah menjadi makanan cemilan favorit kita sehari-hari.

Senin, 28 September 2009

Welcome (Back) to The Jungle

Cibitung, Selasa, 29.09.2009

Welcome (Back) to The Jungle

Oleh: Mohamad Istihori

"Ke Jakarta aku kan kembali. Walau apa pun yang kan terjadi."

Mungkin itu adalah suara hati saudara-saudara kita yang beberapa hari kemarin sudah kembali lagi ke Jakarta. Atau mungkin juga tidak.

Tapi satu prediksi yang mendekati level pasti adalah semangat mereka untuk kembali lagi ke ibu kota adalah untuk mencari sumber penghidupan yang lebih baik.

Karena di Jakartalah segala impian mereka berada. Segala harapan mungkin bisa diwujudkan. Segala asa dan cita bisa menjadi kenyataan. Karena sekitar 80% rupiah beredar di Jakarta.

Maka semua orang berebut mencari peluang sekecil apapun untuk dapat uang di ibu kota. Semua mata terpusat pada Jakarta. Melirik, melotot, sampai mendelik iri pada gemerlap dan kemewahan Jakarta.

"Loh emangnya nggak ada usaha pemerintah untuk mendistribusikan peredaran dan pendistribusian rupiah?" ujar Mat Semplur yang baru saja sembuh dari sakitnya.

"Alah para pejabat pemerintah di negara kita tidak akan punya waktu untuk melakukan hal itu." ujar Bang Katro.

"Loh emangnya kenapa?"

"Iya mereka nggak bakalan punya waktu untuk ngurusin masalah kerakyatan kayak gitu. Waktu mereka sudah tersita untuk memperkaya diri, golongan, dan partai mereka masing-masing.

Karena mereka sudah mengeluarkan uang dan pengorbanan dalam jumlah yang sangat besar untuk bisa duduk di kursi anggota dewan."

"Tapi kan itu pejabat yang dulu. Siapa tahu aja pejabat negara kita yang baru dilantik kemarin tidak melakukan hal hina-dina dan menjijikan seperti itu lagi?"

"Iya semoga saja demikian. Dan, lagi pula tidak semua kok pejabat negara yang kemarin merupakan abdi rakyat yang bobrok mentalnya.

Masih banyak dari mereka yang merupakan wakil rakyat yang jujur, yang mampu menepati janji kampanyenya, dan yang mampu mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi dan golongannya sendiri.

Masih ada anggota dewan yang menolak fasilitas negara berupa mobil dan ia lebih memilih memakai mobil pribadinya dalam mengemban tugas kenegaraan."

"Ente betul juga. Semoga saja pejabat yang baru mampu meniru kelakuan baik para pendahulunya. Bukan malah meneruskan kebobrokan akhlak dan mentalnya."

Aku ucapkan selamat datang untuk saudara-saudaraku yang baru saja kembali dari mudiknya. Baik bagi pendatang baru maupun yang memang sudah puluhan tahun menetap di Jakarta.

Kita bersaing secara sehat kembali. Kita kembali padati jalan raya ibu kota. Yang aspalnya selalu bolong-bolong setiap kali ditimpa hujan deras.

Duh kalau harus ngomongin aspal bolong harus lebih panjang lagi dong tulisan singkat ini.

Alah lewat aja dulu nanti akan kita bahas lebih mendalam lagi mengenai aspal di jalan raya ibu kota yang selalu bolong setiap kali ada hujan deras.

Kita desak-desakkan lagi di bus kota di antara kita dan pencopet kurang ajar itu. Dasar pencopet gila! Udah tahu orang mau pergi kerja, mau cari rezeki, eh di tengah jalan ongkos pp rumah-kantor dan duit buat makan siang malah dicuri.

Selamat datang di "hutan belantara Jakarta". Di mana di beberapa sudutnya masih berlaku hukum rimba: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Yang kuat memakan yang lemah. Yang berkuasa merasa berhak untuk bersikap semena-mena kepada yang ia anggap lebih rendah derajatnya.

Welcome (back) to the jungle. Kita sekarang nggak usah susah-susah lagi ke kebun binatang Ragunan karena di Jakarta hari ini kita bisa menemukan berbagai macam manusia berkarakter dan berkepribadian layaknya binatang.

Bukan hanya "tikus kantor" yang bisa kita jumpai di hutan belantara Jakarta. Kita juga bisa melihat "kerbau yang selalu kumpul".

(orang yang kerjaannya "kumpul kebo". Zina udah biasa, maksiat nggak pernah kelewat, dosa sudah budaya, free sex dilakukan melalui berbagai kesempatan dan momen).

Ada "srigala berbulu domba" (orang yang siap memangsa siapa saja dengan pakaian penyamarannya, terutama di keheningan malam. Auuu..).

Ada "ular berbisa" (yang selalu siaga dengan bisa beracunnya). Ada "buaya darat". Ada "domba yang suka diadu". Ada ayam elit yang masuk perguruan tinggi, kita menyebutnya "Ayam Kampus".

Ini bukan nama-nama hewan dalam makna yang sesungguhnya. Karena hewan yang sesungguhnya sudah pasti lebih mulia daripada mereka.

Nama-nama hewan di atas adalah nama-nama hewan dengan latar belakang budaya. Kalau boleh kita meminjam bahasa Tuhan, ulaaika kal an'aami balhum adhol. (Mereka itu bagaikan hewan ternak bahkan lebih sesat).

Minggu, 27 September 2009

Tawar-menawar Siksaan

Cibitung, Ahad, 27 September 2009

Tawar-menawar Siksaan

Oleh: Mohamad Istihori

Mat Semplur sakit keras. Semakin hari penyakitnya semakin parah. Ia sudah berobat ke mana-meni. Banyak dokter yang sudah angkat tangan untuk menangani penyakit yang diderita Mat Semplur.

Malam ini, bagi Mat Semplur, adalah klimaks dari segala penderitaannya. Ia menjerit-jerit kesakitan. "Aduh Tuhan ampun! Ampun! Sakit ya Allah! Sakit!"

Seluruh keluarga sudah berada di rumahnya. Mereka semua menangis pasrah. Para tetangga yang berdekatan dan yang rumahnya agak jauh pun kontan mendatangi kediaman Mat Semplur. Semua mengajak agar Mat Semplur untuk jangan putus-putus menyebut nama Tuhan.

Tapi itu dilakukannya hanya ketika diingatkan. Begitu sudah lupa ia teriak-teriak lagi. "Aduh sakit! Ampunin dosa-dosa saya ya Allah! Saya ini emang banyak dosa tapi kalau Engkau mau menyiksa jangan sekarang di dunia. Entar aja kek di kubur!"

Kiai Jihad yang sejak awal Mat Semplur jatuh sakit menemaninya berkata, "Eh ente jangan ngomong kayak gitu. Kagak bae! Masalah disiksa atau nggak di kubur mah itu hak prerogatifnya Allah.

Siapa tahu aja dengan sakit yang engkau derita selama ini bisa menjadi kifarat (penghapus) dosa dan kesalahan yang selama ini kamu lakukan di dunia.

Allah itu Maha Pecinta. Ia menimpakan segala sesuatu kepada kita dengan penuh cinta. Maka kita juga harus meresponnya dengan cinta. Bukan malah berprasangka buruk pada cinta-Nya.

Dengan penuh cinta Allah menimpakan penyakit kepadamu dan kepada siapa saja yang Ia kehendaki agar manusia semakin tahu betapa penting dan mahalnya sehat itu. Dan, yang menyembuhkan penyakit bukan dokter atau bukan 'batu ajaibnya' Ponari.

Yang menyembuhkan penyakit itu adalah Allah. Yang selain Allah cuma bisa berusaha mengobati penyakit kita. Bukan menyembuhkan."

Mat Semplur pun sekarang sudah mulai terlihat tenang. Ketika rasa sakitnya kembali datang kini dia berkata, "Ya Allah sakitnya kok nikmat banget. Enak bangeeet ya Allah punya penyakit yang kayak gini. Asyik buanget ya Allah perih ini. Aku jadi semakin cinta banget sama kamu ya Allah.

Teruskan ya Allah! Teruskan saja rasa sakit ini selama Engkau masih berkenan. Hamba ikhlas kok. Tapi hamba lebih ikhlas lagi kalau Engkau segera mengangkat penyakitku ini agar aku tidak lagi membuat khawatir dan merepotkan saudara-saudaraku yang lain.

Atau kalau memang sudah waktunya innalilahi-kan aku saja segera ya Allah. Agar kita bisa bertemu di taman cinta sebagaimana yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui surat cinta al Quran-Mu itu."

Kiai Jihad hanya tersenyum sipu mendengar dialog interaktif antara hamba dengan Tuhannya itu.

Konselor (Konsen Molor) atawa Abu Nawwam (Bag. II)

Cibitung, Ahad, 27 September 2009

Konselor (Konsen Molor) atawa Abu Nawwam (Bag. II)

...

Dan, akhirnya saya pun harus naik angkot lagi deh dari Pasar Ciputat ke Kampus karena kelewat.

Maka tak heran kalau beberapa teman memberi julukan dan gelar kepada saya Abu Naum (alias tukang tidur). Saya membantahnya dengan keras. Saya benar-benar menolak julukan dan gelar itu. Karena yang benar secara bahasa saya ini bukan Abu Naum (Tukang Tidur) tapi saya ini Abu Nawwam (Tukang Molor).

"Makanya kalau ngaji ilmu alatnya masih tingkat Jurumiyah atau Al Fiyah mah jangan coba-coba ngatain saya! Jangan coba-coba bermain kata dengan bilang saya ini orang aneh! Kalau mau belajar ilmu alat yang lebih tinggi dulu."

Mendengar ucapan saya yang penuh kesombongan itu Kiai Jihad naik pitam. Dia marah bukan main. Padahal saya mengucapkannya dalam hati.

Dan, saya lupa kalau Kiai Jihad punya ilmu yang mampu mendengar apa saja yang terucap oleh hati saya.

"Kamu kalau dikasih kesempetan ngomong dikit aja udah mulai ngaco. Udah sono molor aja molor!" bentak Kiai Jihad dengan amarahnya yang sungguh mempesona hati siapa saja yang mampu menikmatinya.

"Dasar orang aneh!" tambah Kiai Jihad menirukan komen salah satu teman FB saya di status saya hari ini.

Saya pun segera molor. Dan, dalam molor itu saya bermimpi menemukan sebuah pohon yang memiliki beraneka ragam daun ilmu.

Ada daun ilmu psikologi, sosiologi, antropologi, filsafat, alat, tafsir, seni, dan beraneka ragam ilmu yang tak bisa saya sebutkan semuanya. Tapi yang pasti buahnya adalah pengalaman dan pengamalan.

Pada pohon itu aku menemukan tulisan yang sudah pasti tidak asing lagi. "Al ilmu bilaa 'amalin kasyajarin bilaa tsamarin." "Ilmu yang tanpa pengamalan dan pengalaman seperti pohon tanpa buah."

(Seperti hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga. Aduhai begitulah kata Para Pujangga).

Dedaunan ilmu pengetahuan yang saya dapat dari mimpi molor saya itu kemudian saya lalap dengan "sambel facebook", "sambel blog", atau "sambel buku harian" saya.

Dan, setelah melalap dan melahap lalap-lapan ilmu pengetahuan itu dijamin molor saya semakin pulas. Pokoknya melebihi kenikmatan tidur manusia mana pun termasuk tidurnya Ashabul Kahfi yang tertidur ratusan tahun di dalam goa.

Konselor (Konsen Molor) atawa Abu Nawwam (Bag. I)

Cibitung, Ahad, 27 September 2009

Konselor (Konsen Molor) atawa Abu Nawwam (Bag. I)

Oleh: Mohamad Istihori

Kalau ada orang dari Madani pernah bilang bahwa saya adalah orang yang giat bekerja, datang selalu tepat waktu (pukul 09.00 WIB), atau selalu mengisi program sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, disepakati, diinstruksikan, dan dituliskan, bahkan ditempel di salah satu sudut Musholah al Madani ketahuilah bahwa ia sedang berdusta! Itu fitnah. Dan, anda semua pasti sudah tahu bahwa fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan.

Karena saya adalah pekerja yang sangat malas, konselor yang selalu datang kesiangan, dan tidak pernah dengan sungguh-sungguh mengisi program.

Kalau ada salah satu sahabat dari UIN Jakarta pernah bilang ke anda bahwa saya adalah mahasiswa yang pandai, ketahuilah bahwa sebenarnya orang itu sedang menampakkan kebodohannya karena ia sudah mengatakan sesuatu tidak apa adanya.

Atau kalau dari mereka ada yang bilang bahwa dulu saya suka membantu menyelesaikan tugas teman-teman kuliah, ketahuilah bahwa itu adalah suatu ke-bull shit-an belaka.

Karena justru sayalah yang sangat memanfaatkan mereka untuk belajar. Justru sayalah yang coba-coba mengambil keuntungan dari mereka. Cuma semua itu saya lakukan diam-diam dan mereka nggak sadar.

Baru sekarang setelah semua teman-teman diwisuda, kecuali satu-dua teman yang masih menikmati masa nostalgianya di kampus, setelah mereka menikah dan bekerja baru mereka sadar bahwa yang saya lakukan selama kuliah kepada mereka selama ini banyak pamrihnya.

Sangat jauh dari harapan keikhlasan dan ketulusan untuk tolong-menolong antar sesama teman sekelas, teman se-jurusan, teman se-fakultas, teman se-UKM, atau teman-teman se-universitas.

Kalau ada salah satu anggota keluarga saya yang bilang bahwa saya ini adalah anak yang baik hati, ketahuilah bahwa mereka sedang berkata yang tak sesungguhnya.

Saya adalah anak nakal. Yang nggak pernah pulang ke rumah setiap malam. Kalau pulang paling cuma makan dan mandi saja. Selebihnya menetap di pondok pesantrennya Kiai Jihad.

Emak saya aja sampe berkata, "Lu gimana sih Is. Pulang mondok disiapin kamar bukannya malah tidur di rumah. Kalau kerja tidur di kantor. Kalau libur tidur di Yayasan?"

Saya hanya bisa berkata, "Maafkan saya Emak tercinta. Sampai hari ini saya belum bisa memenuhi harapanmu yang satu itu."

Kalau ada orang bilang saya orang sholeh, ustadz, kiai, atau embel-embel lainnya maka aku hanya menertawakannya saja dalam hati.
Mereka tidak tahu bahwa saya adalah orang yang tholeh, belum paham tentang inti Islam yang sesungguhnya, malas beribadah, dan bisanya cuma ceramah doang tanpa ada bukti nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka menyangka seperti itu hanya karena kadang-kadang saya pake peci, atau sarungan, bahkan pake serban kalau lagi diundang ceramah. Padahal itu hanya pakaian dan begitu mudahnya mereka tertipu oleh pakaian saya. Tanpa kemudian menyelidiki dengan sungguh-sungguh ilmu dan ibadah saya.

Kalau ada yang bilang ada orang yang telah benar-benar memahami dan mengenal saya itu sesungguhnya mereka belum mengenal dan memahami saya.

Kalau ada orang bilang saya orang aneh itu sudah nggak aneh. Karena sejak zaman Nabi Adam belum diciptakan pun orang-orang sudah bilang saya ini orang aneh.

Saya adalah konselor (orang yang sangat konsen molor). Benar-benar dan sungguh-sungguh seorang konselor. Iam the real consellor.

Bukan orang yang konsen tidur. Kalau tidur itu sangat merepotkan. Kalau tidur kita butuh kasur empuk, bantal, guling, plus selimut. Sebagaimana orang modern zaman sekarang yang menjadwalkan kapan dia harus tidur dan kapan harus bangun.

Kalau molor tak kenal waktu dan tempat. Molor adalah suatu aktivitas yang tak akan terganggu dan terusik oleh apapun termasuk bom di Mega Kuningan sekalipun.

Karena saya adalah konselor (orang yang konsen molor). Maka begitu metabolisme tubuh saya sudah meminta saya untuk molor maka dengan sedikit konsentrasi saja saya bisa molor di bangku kuliah ketika Pak Hamdani, Dosen Filsafat kami sedang serius-seriusnya menceritakan kehidupan keilmuan masa Yunani Kuno.

Saya bisa bersaing molor dengan Pak Dosen Psikologi Komunikasi yang memang kerjaannya selalu molor ketika kami sedang asyik berdiskusi.

Saya bisa molor di depan komputer LPM Institut padahal ketika itu saya sedang nge-lay out majalah bersama Bung Test.

Saya bisa molor ketika Kiai Yana Jihadul Hidayah sedang bersemangat-semangatnya menjelaskan syarah Tafsir Jalalain di sore hari. Sehingga dengan logat Sundanya beliau berkata sambil menggebrak meja, "Iis molor wae sia!"

Saya pun sangat terkejut. Terkadang siapa saja yang molor disuruh maju ke depan. Untuk kemudian dikasih hadiah dengan cara telapak tangan kami disentil dengan cara nyentil beliau yang khas menggunakan jari tengah beliau, "Cetter!" Suara sentilan yang penuh kemesraan dan kasih sayang itu berbunyi.

"Aduh!" suara santri yang menerima sentilan itu kesakitan namun penuh kenikmatan itu.

Itu memang obat ngantuk yang sangat mujarab bagi para santri molor seperti kami. Namun setelah beberapa jam kemudian saya pasti molor lagi.

Saya bisa molor ketika sedang khusyu'-khusu'-nya wirid berjama'ah setelah sholat fardhu bersama para santri Madani Mental Health Care.

Bahkan di P. 20 Koantas Bima jurusan Kampung Rambutan-Ciputat, di antara kerumunan penumpang dan pencopet, di tengah desak-desakkan itu saya masih bisa molor dengan menanggung resiko saya baru dibangunkan sang kondektur setelah sampai di Pasar Ciputat.

Kiai Abnormal?

Cibitung, Ahad, 27 September 2009

Kiai Abnormal?

Oleh: Mohamad Istihori

Selama mengikuti Kiai Jihad, saya melihat bahwa santri-santrinya atau orang-orang yang berdatangan, yang menghendaki ilmu darinya, atau murid-muridnya (murid dari kata aroda yang artinya berkehendak) bukan hanya orang normal atau bukan hanya orang waras saja.

Beberapa santri atau muridnya adalah orang syaraf, orang yang urat-urat syarafnya sudah pada koslet bagai benang kusut akibat masalah berat yang menimpa hidupnya atau karena penyalahgunaan obat sehingga mereka menjadi abnormal, tapi bukan orang gila.

Kalau orang gila nggak mungkin masih semangat cari ilmu. Kalau orang gila pasti ia sudah tidak lagi memiliki harapan untuk menambah pengetahuannya. Kalau orang gila sudah pasti tidak ada lagi dalam hatinya gelagat untuk memperbaiki diri, bertobat, dan berobat.

Murid-murid Kiai Jihad justru memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap Islam. Maka jangan aneh kalau mereka kerap melontarkan pertanyaan dan pernyataan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan oleh kita (yang katanya waras).

Murid-murid Kiai Jihad hanya belum menemukan jati dirinya sendiri saja. Sehingga kadang mereka kebingungan untuk menghadapi keadaan zaman yang semakin tidak mereka pahami.

Murid-murid Kiai Jihad justru adalah anak-anak yang selalu berprestasi di sekolahnya, di universitas tempat mereka menuntut ilmu sebelumnya, atau di tempat mereka bekerja.

Murid-murid Kiai Jihad hanya belum memahami potensi besar yang sebenarnya sudah dianugerahkan oleh Allah SWT. Murid-murid Kiai Jihad hanya kurang mensyukuri limpahan rezeki materi yang Allah berikan kepada orang tua mereka.

Sehingga limpahan materi itu bukannya mereka gunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan eh malah dipake untuk melanggar perintah-perintah-Nya.

Maka di pesantren Kiai Jihad segala ilmu diajarkan. Segala keterampilan diberikan sesuai dengan minat dan bakat murid-muridnya itu.

Bio (obat-obatan kedokteran modern) diberikan sesuai dengan saran ahlinya.

Psiko (jiwa, rasa) diasah, dimotivasi setiap hari, dan terus-menerus.

Sosio (pergaulan sosial), mereka tetap diajak untuk bergaul dengan lingkungan sekitar, bertegur sapa dengan sesama, bersosialisasi dengan siapa saja yang mereka temui. Buang jauh-jauh rasa malu apalagi gengsi. Nggak usah jaim dalam menjalin hubungan silaturahmi.

Dan, satu unsur yang paling penting adalah Spiritual (ilmu agama). Hanya agamalah yang bisa menolong manusia dari segala penyakitnya. Hanya pemahaman agama yang tepat dan benarlah yang bisa membawa manusia keluar dari berbagai masalah dan problem hidup yang sedang ia hadapi.

Tanpa agama manusia akan hancur lebur. Sepintar-pintarnya kita, setinggi-tingginya pendidikan kita, dan sebanyak-banyaknya materi yang kita miliki kalau tidak didampingi pengetahuan agama semua akan sia-sia, semua hanya seperti bom waktu yang tinggal menunggu waktunya untuk meledak untuk kemudian menghancurkan semua persendian kehidupan kita dan harapan kita tentang masa depan.

Karena selama ini Kiai Jihad kerap menemani, mendampingi, nemenim murid-murid abnormalnya itu minum kopi dan ngerokok di warung sebelah pondoknya, nemenin murid-muridnya main PS, main Futsal seminggu sekali, fitness di setiap awal pekan, bahkan pada akhir pekan Kiai Nyentrik itu tampak pergi nonton ke bioskop atau sekedar jalan-jalan di salah satu tempat rekreasi di pusat kota bersama murid-muridnya.

Maka tak heranlah kalau ada anggapan dari beberapa orang yang belum benar-benar mengenal beliau bahwa beliau itu orang yang aneh, orang yang susah dipahamin, atau bahkan ada yang menganggap Kiai Jihad adalah Kiai Abnormal.

Suatu hari aku tanyakan hal itu pada Kiai Jihad, "Kiai kok nggak marah sih dibilang orang aneh lah, orang yang susah dipahamin lah, atau bahkan ada yang menganggap Kiai adalah Kiai Abnormal lah?"

Sambil menghisap rokoknya yang dikit lagi mau habis Kiai kita yang satu itu berkata setengah ketawa, "Saya hidup selama ini tidak di atas anggapan orang lain terhadap saya. Saya hidup hanya sekedar berdasarkan membaca kehendak Tuhan terhadap hidup saya di dunia yang sangat singkat ini.

Kalau Tuhan menghendaki saya menjadi kecoa maka saya akan jadi kecoa. Tapi bukan karena saya pengen atau terpaksa jadi kecoa tapi itu karena Tuhan yang memerintahkan saya untuk jadi kecoa.

Kalau Tuhan memang menghendaki saya untuk membina pesantren maka saya akan bina pesantren ini sampai kapan pun selama Tuhan masih berkehendak. Tapi bukan karena saya pengen punya pesantren apalagi punya cita-cita jadi Kiai.

Maka coba sebutkan apa coba alasan saya untuk marah kepada mereka? Mereka itu hanya belum paham saja atas diri mereka sendiri jadi mereka pun salah memahami orang lain.

Kalau orang sudah mengenal dirinya sendiri maka ia pasti tidak akan punya peluang untuk menyalahpahami orang lain. Karena hidupnya sudah tersibuki untuk memahami dirinya sendiri."

Oh Kiai Jihad betapa sabarnya engkau. Coba kalau saya yang disalahpahamin oleh orang maka saya tinggal pilih: golok, celurit, pisau belati, atau pistol untuk saya pakai melampiaskan kemarahan saya kepada orang yang coba-coba menyalahpahami saya.

Untungnya saya punya guru sesabar, seteguh, seistiqomah, dan selembut Kiai Jihad. Sehingga mental preman saya selalu tereliminir hanya dengan melihat wajahnya yang penuh kasih sayang itu. I love you full Kiai Jihad.