Minggu, 03 Juni 2012

Pengamen dan Pengemis


Sabtu, 2 Juni 2012

Pengamen dan Pengemis


Lebih mulia pengamen yang bernyanyi melawan deru mesin bis kota daripada pengemis bertopeng agama dengan kopiah, sarung, serban, dan menyebar proposal dengan hanya bermodalkan ayat-ayat Tuhan tentang sedekah. Kemuliaan pengamen itu terletak pada keikhlasannya bernyanyi dan menyerahkan sepenuhnya kepada segenap penumpang mau ngasih dia berapa rupiah pun diterima saja dengan senang hati.

Karena pengamen atau penyanyi pada umumnya menyadari bahwa inspirasi yang ia dapatkan di dalam menciptakan lagu murni datang dari Tuhan. Maka ketika ia mencari rezeki dengan bermodalkan lagu yang ia ciptakan itu ia menyerahkan hasilnya kepada Sang Maha Pemberi Inspirasi itu. Begitu juga dengan orang yang memiliki suara “emas”. Suara yang ia dapat “dari sananya”. Karena penyanyi merupakan sebuah bakat yang selebihnya diasah dengan latihan vokal.

Kemuliaan pengamen jalananan itu otomatis akan hilang kalau dia berani-berani mengancam penumpang atau apalagi sampai mengancam dan memaksa penumpang yang kebetulan tidak memberinya sesuatu dengan benda tajam atau dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas. Namun sebenarnya bukan hanya pengamen, siapapun saja yang bernyanyi, membawakan lagu sendiri atau lagu ciptaan orang lain, baik dia seorang penyanyi profesional, atau vokalis band ternama tetap memiliki kemuliaan di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa jika ia mengikhlaskan dirinya dalam memerankan pekerjaannya sebagai penyanyi semaksimal mungkin.

Sedangkan pengemis bertopeng agama ini mempersempit agama. Seakan-akan agama itu hanya tentang sedekah. Merayu umat agar memberi segenap harta yang ia miliki tanpa perhitungan yang rasional. Sehingga Tuhan harganya sangat murah. Ia menggadaikan surga atau bahkan mematerikan segala yang sifatnya rohani. Padahal agama mengajarkan agar manusia merohanikan semua materi yang ia miliki. Agama juga memiliki ajaran yang sangat multidimensi yang setiap orang beragama memiliki kewajiban untuk memberikan pengetahuannya tanpa membatasi dirinya hanya dengan suatu hal.

Kalau ada orang yang merasa bosan belajar agama itu berarti memang akalnya lemah dan kita harus memakluminya. Sedangkan kalau ada orang yang merasa sudah benar-benar memahami agama itu sebenarnya ia hanya sedang menunjukkan kesombongannya belaka. Orang beragama itu selalu sadar akan kebodohannya sekaligus tahu bahwa agama itu adalah sebuah "software" yang sangat canggih.

Masih banyak hidden files (file-file yang tersembunyi) yang sampai saat ini sebenarnya belum benar-benar terungkap dalam agama oleh orang yang beragama itu sendiri. Oleh karena itu ia selalu tertantang untuk terus-menerus berpikir keras tentang agama sehingga tidak ada kata akhir atau titik di dalam mencari pengetahuan baru dalam beragama.

Maka jangan hanya memahami agama dari sudut sedekah saja. Apalagi kalau ia niati untuk memperkaya dirinya atau untuk agar ia menjadi terkenal. Setiap orang bisa belajar tentang agama melalui apa saja yang ia temukan dalam kehidupannya. Bahkan dari pengamen di bis kota atau pengemis berkopiah dan berserban yang rutin muncul di salah satu TV swasta kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar