Sabtu, 10 Juli 2010

"Puisi Curhat" Tamu Kiai Jihad

Sukabumi, Kamis (Malam Jum'at), 8 Juli 2010

"Puisi Curhat" Tamu Kiai Jihad

Oleh: Mohamad Istihori

Malam ini begitu dingin. Setiap yang tidur menyelimuti tubuhnya rapat-rapat dengan selimut. Tak terkecuali Kiai Jihad.

Namun tidur nyenyaknya malam ini terganggu oleh kedatangan seorang tamu. Kiai Jihad tidak menatap wajah tamunya itu. Ia hanya mendengarkan dengan seksama "puisi curhat" yang dibacakannya dengan penuh kesungguhan.

Demikianlah kira-kira "puisi curhat" tamu Kiai Jihad:

Batinku menangis.
Hatiku tersiksa.
Hasrat bercinta yang sangat ingin ku tumpahkan malam ini ternyata tak menjadi sebuah realita.

Semua hanya tinggal angan kosong belaka.
Atau hanya menjadi penghias mimpi malam ini saja?

Aku ingin marah.
Tapi marah sama siapa?
Akhirnya ku ambil HP-ku.
Ku tuliskan apa saja yang ku rasa.

Kalau anak-anak sekolah libur pada senang.
Tapi kalau aku sekarang sedang libur "ngeng-ngeng" tidak senangnya luar biasa.
Kepala pusing tujuh keliling.

Perasaan kesal tidak jelas juntrungannya.
Emosi menggebu-gebu.
Bagai merapi yang sebentar lagi akan meletus dan mengeluarkan lahar yang sangat panas.

Hai engkau mengertilah.
Atau justru aku saja yang memang tidak tahu diri.
Egois.
Cuma mikirin kebutuhan sendiri saja.
Tanpa memikirkan istri yang sudah kecapean dan pusing.

Duh gusti Nu Agung.
Kalau bukan kepada Engkau.
Kepada siapa lagi aku tumpah semua isi hati ini.

Zzzz..Zzzz..Zzzz..
Aku lihat ia tertidur.
Pulas sekali.
Sedang aku tak bisa pulas.
Boro-boro pulas.
Tidur aja nggak.

Usai mendengarkan "puisi curhat" tamunya itu Kiai Jihad berpesan:

"Jika engkau ingin dipahami pasanganmu, pahamilah pasanganmu itu dulu. Jangan menuntut pengertian pasangan hidupmu. Pelajarilah saja ia, agar kau bisa benar-benar memahami pasangan hidupmu.

Cintailah ia sepenuh hati dan jiwamu. Dan, jangan sekali-kali menuntut balas atas segala pengorbanan cintamu. Karena sesungguhnya cinta yang tulus itu tidak menuntut apa-apa kecuali kebahagiaan hati pasangan hidupnya.

Jangan merasa apalagi sampai mengklaim bahwa kamu adalah orang yang baik dan benar. Biarlah pasangan hidupmu yang memberikan penilaian objektif apakah kamu pasangan yang baik dan benar hatinya."

Sang tamu pun pulang. Tinggal Kiai Jihad sendiri kini. Ia tidak mampu untuk melanjutkan tidurnya meski dingin merasuki tulang-belulangnya.

Ia didesak oleh segala apa yang ia dapat dari pembicaraannya dengan tamunya malam ini. Sehingga ia pun menuliskannya dengan penuh konsentrasi ditemani "234" dan segelas kopi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar