Rabu, 30 Januari 2013

Rasionalitas Sang Kiai Mbeling


Sumber: Buletin Mocopat Syafaat pada 7 Januari 2013

Emha Ainun Nadjib dikenal sebagai kiai yang berani bicara blak-blakan. Ucapannya selalu menarik, segar, dan aktual. Bagaimana pria yang kabarnya pernah menjadi "penyembuh" di tahun 1980-an ini mengomentari penyakit modern dan fenomena wirid sebagai penyembuh penyakit yang kian menguat belakangan ini.

Emha mengakui, penyakit masyarakat modern di zaman ini sangat beragam adanya, selain penyakit yang langsung mengahantam tubuh dengan menyerang fungsi organ atau biasa disebut penyakit organis. Penyakit kejiwaan seperti stres dan depresi pun berpotensi memicu merosotnya daya tahan badan. Banyak hal dituding sebagai biang keladinya. Mulai krisis ekonomi yang tak kunjung pulih, PHK, suami atau istri berselingkuh, sampai bisnis jeblok.

Namun, bukan Emha kalau tak punya opini menyentak. Menurut dia, banyak penyakit yang sebenarnya belum layak disebut penyakit beneran. “Yang terjadi sebenarnya adalah perubahan tatanan dasar jasad maupun rohani manusia, akibat berbagai kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus, setiap hari,” ujarnya berteori.

Memangnya, sedemikian hebatkah dampak perubahan tatanan itu? Emha tak ragu- ragu mengangguk. Lelaki yang biasa disapa Cak Nun itu yakin sekali berubahnya tatanan dasar itulah yang mengakibatkan perubahan kewajaran metabolisme tubuh, yang ujung-ujungnya membuat manusia “sakit”.


Angin bertiup jadi penyakit

Perubahan tatanan dasar itu, kata Cak Nun, sepertinya memang telah mengubah banyak hal. Misalnya mengubah fungsi onderdil tubuh, mengubah kelonggaran atau keketatan letak alat-alat dan organ-organ tubuh tertentu, serta mengubah seluruh pola hubungan antar berbagai unsur dalam struktur jasad maupun psikis.
Emha melihat perubahan-perubahan itu sebagai hal yang menimbulkan pergeseran fungsi, penurunan tingkat fungsi, atau bahkan disfungsi dari onderdil jiwa-raga.
“Sehingga apa yang sudah dikodratkan menjadi tidak berlaku,” tandasnya.

Analisis Kiai Mbeling asal Yogyakarta yang juga dikenal sebagai budayawan ini memang menarik. Setidaknya, ia melihat penyakit modern dari sudut pandang yang berbeda dengan paradigma medis. Bahkan suami penyanyi dan pesinetron Novia Kolopaking ini bersikeras, asam urat bukanlah penyakit, melainkan kadar disfungsi dan menurunnya kewajaran kodrat pada peralatan tertentu pada badan manusia. Orang yang berpenyakit jantung pun belum tentu jantungnya yang sakit. “Itu terjadi karena letak dan fungsi jantungnya tidak terakomodasikan oleh tatanan wadahnya.”

Begitu juga masalah kolesterol. Menurut Cak Nun, kolesterol tinggi kasusnya tidak hanya disebabkan oleh kolesterolnya, melainkan menurunnya kemampuan peralatan badan tertentu, terhadap kadar kewajaran fungsi kolesterol. Pada penyakit kanker pun demikian. Belum tentu kasus utamanya adalah serbuan virus, tapi bisa saja barasal dari ketidaksanggupan mekanisme fungsi dan daya tahan bagian tubuh tertentu, yang menjadi rentan oleh virus.

Bahkan, ketika bicara soal AIDS dan virus HIV pun ia menyarankan, “Harus dipertanyakan dulu penekanan kasusnya, apakah pada virusnya atau pada degradasi daya tahan pasien.” Pasalnya, kata Cak Nun, ketika jiwa membiarkan over fungsi pada rasa dengki, cemburu, kecengengan, kebodohan, kekerdilan, maka ibaratnya, angin bertiup saja sudah bisa menjadi penyakit.

Berbagi tugas dengan Tuhan

Ketika menukik ke masalah penyakit yang berhubungan dengan jiwa, raut muka Emha tampak lebih serius.

Menurut pandangannya, penyakit kejiwaan seperti stress, depresi, paranoid, dan sebagainya berasal dari perlawanan hati manusia terhadap kewajaran hidupnya. Ia memastikan, jiwa manusia pasti kalah dalam peperangan itu. Di sisi lain, pikiran manusia tidak membawa dirinya pada peletakan diri di titik koordinat nilai hidup yang paling sehat. “Hati manusia tidak bekerja sama dengan konsep pikirannya dalam menentukan ke mana ia memandang, apa yang harus ia kejar dan jangan dikejar, apa yang primer dan sekunder, apa yang semestinya disembah secara total dan apa yang silakan disepelekan saja,” jelasnya.

Diakui oleh Emha, setiap orang belajar sendiri mengelola akal dan jiwa. Tidak ada institusi pendidikan yang memandu akal dan jiwa manusia untuk mengerti secara tepat alamat kehidupannya, luas sempit semesta tempat tinggalnya, pola-pola hubungannya dengan dunia luar dan dengan dirinya sendiri. Yang disebut dunia luar, bukan hanya masyarakat, tapi bisa juga alam semesta dan Tuhan.

Tentang keikutsertaan-Nya dalam kehidupan manusia, Emha mengambil perumpamaan amat sederhana, yakni kehidupan perkawinan. Ia bilang, kalau seseorang kawin dan yang hadir hanya dua keluarga serta handai taulan, maka hanya sebegitu pula luasnya semesta pernikahan orang itu. Sekaligus hanya sesedikit itu pula orang yang akan menolongnya ketika bahtera rumah tangga kacau balau. Namun, tambah Emha, kalau dalam perkawinan itu juga “mengundang” Tuhan hadir, maka rumah perkawinan akan terbuka luas, seluas alam semesta milik Tuhan yang tiada duanya. Bahkan para malaikat ikut rela turun tangan menjadi pelindung rumah tangga itu. Apa yang tak mungkin bisa menjadi mungkin, karena adanya Tuhan dalam rumah tangga.

Seperti tengah menyampaikan nasihat di depan para santrinya, Emha melanjutkan, mestinya kebakaran rumah bisa menjadi tidak kebakaran. “Mestinya rezeki tak cukup menjadi cukup, karena Tuhan ikut ‘bekerja’ dengan yarzuqhu min haitsu la yahtazib (memberimu rezeki melalui jalan yang tak kau duga-duga –Red),” sambung Cak Nun, dengan suara beratnya yang terdengar makin tebal dan sarat emosi. Dengan kata lain, kalau Tuhan menjadi sahabat karib seseorang dalam rumah tangga dan kehidupan, maka orang itu tidak akan berjalan sendirian, alias ada penjamin rezeki, kekuatan dan ketentramannya. Karena ada Tuhan, ia tak perlu korupsi, tak perlu marah pada tetangga yang memfitnah, tak perlu takut tak makan, tak perlu menempuh karier seorang diri, dan kesepian di tengah ganasnya persaingan. Sebab, ada division of labour dengan Tuhan.

Masih dengan suara bergetar, Emha menambahkan, karena ada Tuhan, maka tak perlu membunuh orang, tak perlu menyingkirkan siapa-siapa, tak perlu membela diri, tak pernah rugi, dan tak pernah tidak tenang. “Karena perkawinan seseorang diprakarsai, diperjalankan, diselenggarakan oleh Tuhan, dan Tuhan sangat bertanggung jawab sebagai ‘panitia’ hidup orang yang bersangkutan. Sangat panjang kalau ini saya teruskan, ” katanya bersemangat.


Sakit perutnya Nabi Musa

Berbicara tentang penyakit organis, senjata kedokteran modern mungkin masih dapat didayagunakan. Namun bagaimana dengan penyakit akal dan jiwa, mampukah dunia medis menjinakkannya? Versi Emha, pengobatan medis modern bisa mengatasi sesuatu, namun tak bisa mengatasi sesuatu yang lain. Demikian juga jenis pendekatan lain, yang kerap disebut alternative.

Sebaiknya, “Saling rendah hati dan saling belajarlah.” Setengah berseloroh, Emha memberi contoh, kalau sebuah kursi tidak kokoh karena salah satu kakinya miring, dokter jangan menyuntik kursi itu atau memberinya pil, supaya diminum sehari tiga kali. Dokter harus belajar membenahi posisi kaki kursi itu dengan metode lain.

“Ilmu pengobatan ‘kan terus berkembang dan berinteraksi di antara ribuan macam pendekatan,” tandas Emha sambil sedikit mengembangkan tangan. “Itu ijtihad dan kreativisasi ilmu yang harus kita dukung secara apresiatif, adil, dan objektif tanpa sentimen kekuasaan atau dominasi oleh salah satu pendekatan.”

Dengan mengapungkan tangan sedikit di atas kepala, Emha mengingatkan, puncak dari pencarian ilmu pengobatan atau ilmu penyehatan, baik tradisional maupun modern, adalah kesadaran seperti yang dicontohkan oleh kasus Nabi Musa yang sakit perut, tatkala ia bersama pasukannya dikejar-kejar oleh pasukan Firaun.

Musa mengeluh kepada Tuhan, dan Tuhan menjawab, “Pergilah ke atas bukit itu, ambillah daun yang ada di sana, makanlah supaya perutmu tak sakit.”

Musa lalu lari naik bukit, tapi belum sempat menyentuh sehelai daun pun, perutnya sudah sembuh. Ia berterima kasih kepada Tuhan, kemudian turun. Sesampai di tengah pasukannya, perutnya sakit lagi. Musa langsung berlari naik bukit, tapi kali kedua ini perutnya tak sembuh, meskipun ia sudah melalap berhelai- helai daun. Musa memprotes, “Ya Tuhan, bagaimana ini, sedah kukunyah berhelai-helai daun, tapi kok perutku tak sembuh juga?”

“Ilmu apa yang berkesimpulan bahwa daun itu bisa menyembuhkan sakit perut?” jawab Tuhan.

“Bukankah tadi Tuhan menyuruhku mengambil daun ini?” sergah Musa. “Yang menyembuhkan perutmu adalah perkenan-Ku, bukan daun itu. Ketika sakit pertama kau minta tolong kepada-Ku, tapi kali kedua kau langsung lari mencari daun tanpa meminta tolong kepada-Ku. Daun itu, juga apa saja di dunia ini, termasuk ilmu dan pengetahuanmu, tak bisa menyembuhkan apa-apa. Yang menyembuhkanmu adalah kehendak-Ku, dan terserah Aku akan menyembuhkanmu melalui daun atau apa pun.”

Wirid bukan keajaiban

Bagaimana dengan penyembuhan ala sufi, yang memiliki cara berbeda dalam mengalahkan segala jenis penyakit fisik dan jiwa, hanya dengan mempraktikkan dzikirullah? Emha berulang kali menggeleng kecil. Agak pelan nada suaranya. Setelah terlebih dulu menghirup napas dalam-dalam, meluncur kalimat demi kalimat dari ruang di antara bibirnya.

“Tasawuf, sufisme bukan kaum penyembuh manusia dari sakit. Sufi adalah jalan penyehatan hidup jasmani-rohani. Sehat dalam perspektif yang lengkap dan komprehensif, jiwa dan raga, jasmani dan rohani, luar-dalam bumi-langit, dunia-akhirat.” Ia sendiri mengakui, “Wirid bisa menolong proses seseorang melakukan konversi, tetapi sesungguhnya wirid itu dalam istilah medis lebih berfungsi preventif ketimbang kuratif.”

Emha mengajak tetap berpijak pada akidah. Wirid bukan keajaiban, ia hanya alat sederhana yang diperlukan oleh kelemahan manusia agar jiwa dan pikirannya tidak terpecah melebar ke segala sesuatu yang melemahkan hidupnya. Sesungguhnya, wirid memelihara fokus dan konsentrasi hidup manusia pada suatu titik yang paling pantas dan rasional untuk ia jadikan pusat perhatian dan tujuan. Kalau konsentrasi itu prima, maka kreativitas intelektualnya menjadi efisien dan efektif. Atmosfer kejiwaannya juga terhindar dari kepulan-kepulan takhyul yang merupakan isi utama dunia.

Emha menggolongkan wirid ke dalam beberapa macam. Ada wirid global- general, wirid preventif untuk proses conditioning langkah-langkah hidup, serta wirid kuratif yang mengarah pada sasaran tertentu agar memiliki daya pengobatan.

Namun, Emha pun punya kritik buat para pewirid. “Kelemahan kaum pewirid, mereka cenderung meyeram-nyeramkan wirid, memitologisasikannya, atau sangat digantungi solusi-solusi yang melebihi rasionalitas. Padahal, asas solusi atau prinsip utama penyembuhan adalah rasionalitas. Wirid difungsikan pada tahap tertentu, tanpa keluar dari koridor rasionalitas.”

Menurut Emha, banyak kelompok wirid yang berwirid tanpa menyiapkan kemampuan identifikasi, deskripsi dan konklusi-konklusi objektif terhadap sebab akibatnya wirid. Yang dikhawatirkan Cak Nun, wirid akhirnya hanya menjadi mitos, menjadi semacam keris pusaka yang dipakai untuk kamuflase, menakut-nakuti orang, atau pada kasus lain justru orang bergantung total pada perilaku wirid yang difungsikannya diam-diam sebagai semacam mode atau aksesori sosial budaya. Itulah sebabnya, Emha lebih memilih mengatasi penyakit modern dengan rasionalitas.

Seperti yang kini dilakukannya lewat “Padhang Mbulan” dan sarana-sarana lainnya. Rasionalitas khas sang Kiai Mbeling.

Sumber: Intisari Mind Body & Soul, Edisi Khusus

(CC: Nanang Suprihatin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar