Rabu, 04 Februari 2015

Musik Dan Jagat Politik Republik 2009

Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

DATANG pertanyaan kepada saya “apakah musik berperan dalam pemilu 2009?”, saya menjawab, “Ia bukan hanya berperan. Ia memberi watak kepada perilaku politik, memberi nuansa kepada alun iramanya, menginspirasikan koreografi dan orkestrasi demokrasi, musik memimpin gegap gempita jagat perpolitikan Indonesia 2009. Mestinya begitu. Ia sangat potensial untuk itu”.

Saya bukan orang musik, maka posisi saya adalah menghormati dan menyayanginya: kita tidak boleh bersikap cuek kepada apapun di luar dunia kita. Bodoh kalau kita merendahkan suatu wilayah aktivitas yang kita tidak kuasai. Secara ilmu pengetahuan engkau sebaiknya lebih memberi perhatian kepada yang engkau belum ketahui, dibanding yang engkau sudah ketahui. Itulah sebabnya maka saya memilih bekerja keras untuk “mengetahui” dan sejauh mungkin mengelak untuk “diketahui”.

Tidak satu alat musikpun saya mampu gunakan. Pernah coba sentuh-sentuh gitar tapi tiga tahun tidak cukup untuk memindahkan jari jemari saya dari grip satu ke grip berikutnya. Akhirnya saya putuskan, saya mencintai gitar saja, serta mengagumi siapapun yang mampu bermain gitar. Pernah pegang-pegang seruling, hati mau ke notasi Jawa, jari jemari mempergilirkan nada-nada yang tersasar ke Arab. Beberapa lama bergaul dengan seruling besar Shakuaji, tapi yang saya dapatkan bukan keterampilan musik, melainkan latihan pernafas-an dan konsentrasi batin.Sudahlah. Inilah posisi hidup saya: menjunjung tinggi para pekerja musik dengan hati takjub, memuja keindahan karya mereka di lubuk kalbu.


Agak sedih juga menyaksikan dari zaman ke zaman kaum pemusik “menjual murah” dunia musik. Anak-anak remaja belajar dan diajari mempersempit dimensi jagat musik. ‘Kosmologi’ musik hanya diambil bagian yang pragmatis: notasi, nada, irama, aransemen, aliran, album, pasar, dengan rumbai-rumbai entertainment sampai kadar yang menjijikkan, mengisi rubrik-rubrik tayang yang memanjakan mereka seolah-olah lebih penting dibanding para Nabi dan pemimpin-pemimpin revolusioner dunia.

Pekerjaan musik menjadi pekerjaan sangat eksklusif dan ruangan yang sebenarnya sempit, tetapi meminta derajat dan social-positioning terlalu tinggi secara kebudayaan, dengan ongkos sensasi, lonjak-lonjak tepuk-tepuk dan eksentrisisme. Para pemusik tidak terlalu memperhatikan dan mensyukuri bahwa musik hadir dalam peta sejarah yang lebih luas, sehingga sesungguhnya mereka bisa hadir lebih dari sekedar menjadi“abdi dalem oceh-ocehan” atau “klangenan” yang hanya menumpang fasilitas zaman – tanpa pernah mengambil posisi untuk menciptakan paradigma zaman.

Ilmu musik diambil oleh para pemimpin sejarah untuk menggiring ritme kekuasaan dan menyusun skema aransemen penguasaan, menentukan momentum-momentum yang tepat untuk intro, urutan verse, tanjakanchorus, juga middle of eight-nya. Para penyusun skenario sejarah mengasah kepekaan pada momentum, memilih cengkok-cengkok untuk suatu keperluan politik dan diplomasi, merancang sejak awal coda-nya.

Para pengambil keputusan negara dan masyarakat menggunakan ilmu musik untuk memahami mapping zaman di hadapannya: mana gendangnya, mana anasir kenong kempul saron demungnya, mana underground karakter gender-nya, bagaimana menyimpan gong dalam rahasia intelijen untuk ditabuh dengan determinasi dan akurasi pada detik yang tepat.

Gong kepresidenan Obama berdengung November tahun lalu, tapi gendang awalnya lebih sepuluh tahun sebelumnya. Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 adalah produk instant-improvization setengah-bar sesudah kemerdekaan Korea Selatan. G30S 1965 sudah digendangi sejak 1958 oleh para ‘Siluman’, juga berkuasanya Soeharto sesudah keributan itu.

Bung Karno mengkonduktori simfoni-simfoni besar yang mengguncang dunia. Soeharto dengan ilmu musik kamarnya, men-detail watak do hingga si, sampaipun bes dis cis, mayor minor, dengan frame filosofi musik “Ngelmu Katuranggan” (hakikat dan wibawa setiap unsur dalam musik) dan “Ngelmu Pranoto Mongso”(watak-watak, musim-musim, nuansa-nuansa, pause-pause, dataran dan tanjakan).

Jangan lupakan juga simfoni anti-musiknya Gus Dur, musik-bukan-musiknya Mega, orkestra datar SBY dan mestinya akan tercipta suatu paradigma simfoni 2009, karena para pemusik melakukan transendensi, melompati jasad zaman, membangun kualitas peran, menolak menjadi sekedar sub-tools of politic: menyanyi di medan kampanye, membikinkan album “campur sari” atau pop calon presiden, atau memanfaatkan kebodohan zaman yang kehilangan sense of competency dengan berebut menjadi caleg, cawagub, cawabup.

Musik mampu mengubah kehidupan seseorang secara sangat mendasar dan menyangkut prinsip paling inti dalam hidupnya. Saya punya banyak teman, sebagaimana Neil Armstrong menikmati keyakinan agama barunya ‘hanya’ karena mendengar suara adzan. Cat Stevens (Yusuf Islam) tidak bermusik 20 tahun lebih sampai suatu malam menonton pertunjukan Kiai Kanjeng di SOAS London. Dia pengikut suatu aliran tertentu dari (produk tafsir) Islam. Ia menunggu 20 tahun lebih untuk menemukan di dalam dirinya bahwa ternyata bisa menjadi muslim yang baik sekaligus menjadi pelaku musik yang baik.

Ia menemui saya di belakang panggung ketika istirahat pentas SOAS itu dan bertanya:
“Apa tidak ada masalah seorang muslim bermusik?”
Saya balik tanya: “Tadi mas Yusuf datang ke sini dari rumah pakai apa?”
“Maksudnya?”
“Pakai trem, bus atau kendaraan sendiri?”
“Saya bawa mobil sendiri bersama istri saya.”

“Tidak ada masalah bagi setiap muslim untuk me-ngendarai mobil dan pesawat, menaruh kulkas di rumah, memakai mobile phone ke mana-mana, meskipun hampir tak satupun dari benda-benda itu yang merupakan hasil karya kaum muslimin. Kami dari Indonesia membawa Gamelan Kiai Kanjeng sebagaimana Anda membawa mobil. Tadi Anda membunyikan klakson, menyetir dengan irama, menginjak gas dengan takaran nada. Itu semua hanya alat. Yang salah bagi muslim hanya dua. Pertama, membawa musik ke dalam masjid dan memainkan musik mengiringi orang shalat, serta mencampurkan ibadah mahdloh lainnya dengan musik. Masalah kedua bagi setiap muslim adalah tidak menomorsatukan Tuhan, menyakiti orang lain, mengambil yang bukan haknya, serta hal-hal semacam itu yang orang tak perlu sekolah untuk mengetahuinya”.

Sesudah itu Cat Stevens bikin album lagi.

Dengan musik Kiai Kanjeng saya berkeliling ke tujuh kota Belanda Oktober 2008, masuk gereja-gereja Protestan dan Katolik, masuk synagoge dan masjid-masjid (tentu saja di hall-nya, bukan di depan Mihrab). Kami berjumpa dengan para pemimpin semua agama yang berlaku di sana. Salah satu hasilnya adalah lahir “Deklarasi Damai” antara umat Islam, umat Kristiani dan umat Yahudi seluruh negeri Belanda, yang di-launching 8 Januari 2009 – meskipun dalam skala internasional dilukai oleh pe-nyerbuan Gaza.

Andaikan saya pemusik, saya ingin turut mengaransir 2009-nya Indonesia. Kalau tidak, ya sesudahnya.

Sumber: RollingStone Indonesia/28/01/2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar