Senin, 18 Januari 2010

Poin-poin "Kembali Membumi"

KJD, Ahad, 03 Januari 2010

Poin-poin "Kembali Membumi"

Oleh: Mohamad Istihori

(1)

Dalam keintiman seluruh pakaian harus dilepaskan. (Kiai Budi)

Tolong jangan artikan ucapan ini secara makna konkretnya saja. Jangan hanya mengintip sehingga pikiran kita sempit. Keluarlah dari ruang bahasa formal di mana selama ini kita terkunci di dalamnya.

Secara luas jika sebuah hubungan silaturahmi hendak dijaga kualitas keintiman dan keakrabannya maka "seluruh pakaian" harus dilepaskan.

Baik pakaian gelar, jubah prestasi politik, selendang kebesaran, baju pangkat, kemeja promosi kenaikan jabatan, dan segala hal yang menutupi kemesraan hubungan silaturahmi.

Kalau dengan manusia saja kita harus "telanjang, setelanjang-telanjangnya", apalagi dengan Tuhan.

Jangan kau bawa pangkat, gelar, kecantikan, ketampanan, prestasi akademis, keturunan, dan hal-hal yang bersifat duniawi ke hadapan Tuhan. Karena hal percuma saja.

Lepas semua "pakaianmu" itu, maka kita akan merasakan bahwa sebenarnya Tuhan itu amat dekat dengan kita.

Ia ada dalam keseharian hidup kita. Kita saja yang kurang mengakrabi dan menyapa-Nya sehingga selama ini kita selalu merasa jauh dengan Tuhan.

Pakaian kebesaran keduniaan telah menghalangi keintiman, kemesraan, kedekatan, dan keakraban hubungan kita dengan Tuhan.

(2)

- Laki-Rabi (istri) --> Liqooi robbi.

Di antara sekian banyak jalan untuk bertemu dengan Tuhan (liqooi robbi) bagi seorang laki-laki adalah menyayangi dengan setulus hati "rabinya" (istrinya).

Pun begitu juga sebaliknya. Jika seorang wanita hendak bertemu Tuhannya cukup dengan mencintai suaminya sepenuh hati, apapun kekurangan dan kelemahan suaminya, itu bisa ia jadikan untuk bertemu dengan Tuhannya.

- Seluruh makhluk yang ada di alam ini adalah keluarga-Ku. Maka jangan sekali-kali kau menyakiti mereka. Karena jika kau menyakiti mereka, itu sama saja kau menyakiti Aku. Karena mereka juga adalah anggota keluarga-Ku.

Maka sesakit apapun hatimu oleh prilaku mereka yang tidak berkenan di hatimu, maafkanlah kesalahan mereka. Jadilah samudera cinta.

Dan, kesalahan mereka hanyalah setitik kotoran yang jatuh ke dalam samudera cintamu. Dan, ketahuilah bahwa setitik kotoran tidak akan mampu merubah kejernihan samudera cinta.

Belajarlah dari Muhammad. Ketika ia ke Thoif ia dilempari batu sehingga keningnya berdarah. Kotoran unta pun "mampir" ke wajahnya.

Tapi apakah ia marah? Apakah kemudian ia menerima tawaran Malaikat Jibril untuk membalikan tanah sehingga mereka mati semua?

Tidak. Tidak wahai saudara-saudaraku sesama anggota keluarga Tuhan. Muhammad tidak marah. Tidak ada setitik pun kebencian dalam samudera hatinya yang dipenuhi cinta.

Beliau justru berdo'a untuk mereka yang "menghadiahkan" beliau batu dan kotoran onta, "Allahummahdi qouumin fainnahum laa ya'lamuun."

"Ya Allah berikanlah kaumku itu petunjuk karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui betapa besar cintaku pada mereka."

Betapa luas hati Muhammad. Kalau memang mereka tetap kafir seperti itu, Muhammad berharap semoga anak-cucu mereka bisa mendapat petunjuk sehingga tidak lagi melakukan perbuatan yang menyakiti hati dan perasaan saudaranya sendiri.

(3)

Kalau engkau merasa benar sendiri, apakah itu bukan merupakan berhala yang abstraksi?

(4)

Sakinah, Mawaddah, dan Rohmah

Sering kita mendengar terutama setiap kali ada saudara kita yang menikah kata-kata sakinah, mawaddah, dan rohmah.

Apa sih sebenarnya maksud dari ketiga kata tersebut? Kita ini kan seringnya mendengar saja, tapi kurang memiliki kemauan untuk menggali sendiri secara lebih mendalam.

Ibarat bayi mah kita maunya disuapin terus. Males untuk nyendok nasi dan lauk-pauk sendiri dan sangat enggan untuk nyuapin sendiri.

Sakinah adalah cinta yang berhamburan dalam skala rumah tangga atau keluarga kecil di mana di sana terdapat suami, istri, dan anak.

Kalau kita berhasil menangkap cahaya cinta sakinah yang bertaburan di dalam rumah kita sendiri, maka kita akan bertemu cinta yang lebih luas yaitu cinta mawaddah.

Yaitu cinta dalam ruang lingkup lingkungan sekitar. Seperti RT, RW, kelurahan, atau kecamatan.

Sekarang bagaimana kita bisa jeli untuk menangkap dan mengerti apalagi menyebarkan cahaya cinta mawaddah kalau di rumah kita sendiri saja kita tidak mendapatkan cinta skala rumah tangga yaitu cinta sakinah?

Bagaimana di lingkungan tempat kita tinggal mau bertebaran cahaya cinta mawaddah kalau cahaya cinta sakinah saja tidak kita dapatkan di rumah kita sendiri?

Dan, lebih luas lagi adalah cinta rohmah. Adalah cinta yang bertebaran sealam semesta. Cinta tanpa batas. Cinta yang tidak bisa dibatasi ruang, waktu, dan segala perbedaan yang bisa kita temukan dalam kehidupan.

Makanya Islam itu dikenal dengan rahmatan lil'alamin. Artinya Islam merupakan agama yang menebarkan cahaya cinta rohmah kepada seluruh alam. Kepada siapa dan apa saja yang bertemu dan bersinggungan dengannya.

Sayangnya tidak semua orang Islam memahami hal ini. Sehingga ada beberapa golongan yang mengaku beragama Islam bukannya menebarkan cinta dan ketentraman bagi yang lain, malah menyebarkan keresahan dan menebar teror serta ketakutan di mana-mana.

Maka mari kita kembali membumi. Dalam konteks ini, kita benahi kembali keluarga kita. Agar keluarga menjadi awal tersebarnya cinta mawaddah di lingkungan sekitar.

Syukur-syukur bisa menyebar ke ruang lingkup yang lebih luas yaitu menjelma menjadi cinta rohmah.

Amin.

(5)

- Bicara Tentang Pendidikan

- Mereka berdebat tentang teori-teori pendidikan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan dunia pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar