Senin, 25 Januari 2010

Lelaki dan Wanita yang Semestinya

Ciputat, Rabu, 06 Januari 2010

Lelaki dan Wanita yang Semestinya

Oleh: Mohamad Istihori

Lelaki

Lelaki seharusnya mampu menahan nafsu syahwatnya (melampiaskannya) ketika ia berada di hadapan wanita yang bukan muhrimnya. Sekalipun wanita itu adalah pacarnya.

Karena kalau lelaki tidak mampu mengendalikan nafsu menyimpangnya itu maka hancurlah harga dirinya di hadapan wanitanya itu.

Suatu saat kalau sudah menikah, ketika lelaki itu menasehati wanitanya bisa-bisa wanitanya itu ngeles sambil berkata, "Alah lu pake nasehatin gua segala lagi. Prilaku lu selama pacaran sama gue aja udah nggak bener.

Mintanya yang aneh-aneh melulu. Kalo nggak dikasih ngancam mau mutusin lah. Bilang kalo gua nggak cinta lah. Nggak care lah."

Atau kalau konteksnya zaman sekarang, lelaki juga semestinya tidak harus selalu nurutin kemauan wanitanya. Mentang-mentang cinta apa pun dilakukannya. Entar kalo ditinggal kawin baru tau rasa dia.

Wanita

Wanita semestinya jangan terlalu mudah juga mengabulkan apa yang dimaui lelakinya. Apalagi kalau cuma kemauan pacarnya.

Kalau wanita dengan gampang-gampang saja mengiyakan apa yang dimaui lelakinya maka hancurlah semua harga dirinya sebagai wanita.

Atau kalau kita bicara permasalahan sekarang, wanita juga jangan sampe minta apalagi sampe nuntut lelakinya untuk mencapai segala apa yang ia harapkan. Sungguh, alangkah sengsaranya lelaki yang memiliki wanita semacam ini.

Lelaki dan Wanita

Lelaki dan wanita semestinya saling mengimbangi. Bukan malah saling bersaing apalagi memanfaatkan dan mencurangi.

Kalau karakter lelaki kita seperti gas, yang maunya ngebut terus maka kita sebagai wanitanya harus mampu mengambil peranan sebagai rem. Agar lelaki kita itu tidak nabrak-nabrak terus.

Kalau lelaki kita nge-rem terus nggak mau nge-gas-nge-gas maka kita sebagai wanitanya harus seumpama gas yang mampu memberikan spirit dan semangat bagi segala aktivitas kerjanya.

Begitu juga sebaliknya, kalau wanita kita maunya nge-gas aja nge-gas maka kita sebagai lelakinya harus mampu menjadi rem baginya agar wanita kita itu tidak terus terperosok dalam jurang kehancuran dan kehinaan.

Atau kalau wanita kita nge-rem, nggak sanggup narik gas untuk melangkahkan kakinya menuju masa depan yang lebih baik maka kita sebagai lelakinya harus mampu memberikan suntikan semangat tanpa kenal menyerah sampe wanita kita semangat.

Demikianlah memang semestinya lelaki dan wanita. Saling mengisi dan mengimbangi. Adanya lelaki adalah karena wanita. Dan, adanya wanita dicipta adalah karena lelaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar