Minggu, 17 Januari 2010

Menikmati Kebersamaan Hidup

Cibubur, Sabtu, 04 Januari 2010

Menikmati Kebersamaan Hidup

Oleh: Mohamad Istihori

Bayangkan, pada di musim haji yang bisa menikmati kebersamaan hanya orang-orang Islam yang mampu secara fisik dan pesak untuk berangkat haji ke Mekah al Mukarromah dan Madinah al Munawwaroh.

Tapi coba kalau di Indonesia, kita tidak harus menunggu datangnya musim haji. Kita tidak hanya bisa menikmati kebersamaan, kemesraan, keharmonisan, dan kedamaian dengan sesama orang Islam.

Tapi dengan agama manapun di Indonesia kita bisa menikmati indahnya kebersamaan dan kemesraan hidup sebagai sesama makhluk Tuhan. Itulah bagi saya yang dinamakan Islam itu sebagai agama yang rahmatan lil 'alamiin.
Cinta itu memiliki tiga cakupan. Cakupan dasar dan awal adalah cinta sakinah, yaitu cinta dalam cakupan keluarga.

Kedua cinta mawaddah atau cinta yang cakupannya sudah menyebar pada lingkungan sekitar kita. Dalam cakupan RT, RW, kelurahan, atau kecamatan.

Dan, ketiga cinta rohmah atau cinta dengan cakupan paling luas yang meliputi seluruh alam. Cinta yang tidak dibatasi ruang, waktu, dan perbedaan apa saja yang bisa kita temui dalam kehidupan.

Makanya sangat pantas kalau Islam itu sebagai agama yang rahmatan lil 'alamiin. Bukan agama yang sakinatan lil 'alamiin atau bukan juga mawaddatan lil 'alamiin.

Maka saya menjadi sangat heran kalau ada orang yang mengaku beragama Islam tapi tidak punya kekuatan hati untuk mencintai dan hidup bersama dengan orang yang berbeda agama, pemikiran, suku, partai, dan perbedaan-perbedaan lainnya yang sudah pasti akan kita temui dalam kehidupan ini.

Ngakunya beragama Islam tapi kok kerjaannya menciptakan kerusuhan, tawuran, berantem, konflik, fitnah, dusta, bahkan dendam berkepanjangan sampai tujuh turunan?

Islam macam apa yang tidak mau mencintai keluarganya sendiri? Tafsir Islam yang bagaimana yang setelah tetangganya bertamu ia langsung ngepel lantai rumahnya karena saudaranya sendiri dianggap najis?

Golongan Islam macam apapula yang tidak mau berjama'ah dengan sesama saudaranya yang muslim hanya karena beda ideologi?

Sungguh Islam itu luas dan bisa digunakan sebagai bahasa komunikasi untuk modal bersilaturahmi dengan siapa saja dan apa saja.

Manusia yang menganutnyalah yang kerap mempersempit, mengkotak-kotakkan, dan memisahkan Islam dari kebersamaan hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar