Selasa, 14 Juli 2009

Budaya Cium Tangan

Selasa, 140709

Budaya Cium Tangan

Oleh: Mohamad Istihori

Saya tak menyangka kalau Kiai Jihad hadir pada pengajian saya malam ini. Padahal dia adalah kiai tersohor di kampungnya. Tapi dia masih mau mendengarkan pengajian saya yang sebenarnya adalah muridnya.

Yang membuat saya lebih kaget lagi, setelah pengajian selesai, dia kemudian menghampiri saya dan mencium tangan saya. Saya berusaha menolak sekuat tenaga tapi dia terus memaksa dan akhirnya guru besar saya itu pun mencium tangan saya.

Sungguh ini adalah peristiwa yang sangat mustahil dalam kamus hidup saya. Di mana seorang kiai sekaliber Kiai Jihad mencium tangan saya. Setelah para jama'ah pulang saya pun menghampiri beliau yang tengah asyik menghisap rokoknya.

"Pak Kiai mengapa mencium tangan saya?"

"Loh emang kenapa? Emang nggak boleh saya mencium tangan kamu?"

"Bukan nggak boleh Pak Kiai. Saya cuma heran plus bingung saja, masa ada kiai mencium tangan santrinya."

"Kamu jangan GR dulu, ketika ada seseorang mencium tangan kamu."

"Emangnya kenapa kiai?"

"Karena ada banyak alasan seseorang mencium tangan kita."

"Bolehkah saya tahu apa sajakah alasan itu pak kiai?"

"Pertama ada orang yang mencium tangan kita karena memang ia memuliakan ilmu kita. Bukan memuliakan diri kita. Maka baginya, siapapun orangnya; mau yang lebih muda kek, lebih kecil kek, mau guru mencium tangan muridnya kek, mau kiai mencium tangan santrinya kek, itu bukan karena dia melihat diri kita tapi memang dia melakukan hal itu karena dia telah mengakui keabsahan ilmu yang kita miliki.

Kedua, ada juga orang yang mencium tangan kita karena hanya menghormati kita. Hal itu karena mungkin kita lebih tua umurnya dibandingkan dia. Maka dia pun mencium tangan kita tanpa melihat terlebih dahulu seberapa dalam ilmu kita.

Ketiga, karena nggak enak sama orang lain. Bisa saja loh ada orang yang mencium tangan kita bukan karena kita punya ilmu yang ia anggap mumpuni atau karena kita pantas dia hormati. Golongan ketiga ini biasanya mencium tangan kita karena ia melihat orang lain selain dia semua mencium tangan kita jadi dia kan nggak enak kalau dia sendiri yang nggak ikut mencium tangan kita. Jadi dia hanya ikut-ikutan orang lain mencium tangan kita.

Keempat, ada juga orang yang mencium tangan kita semata-mata karena terpaksa. Bukan datang dari kesadaran dirinya. Sehingga hal itu ia lakukan bukan karena memang ia mau melakukannya melainkan ada pihak-pihak tertentu yang mendorong dirinya untuk melakukan hal itu. Pihak yang memaksanya mencium tangan kita mungkin orang tuanya, kakaknya, gurunya, dan lain-lain.

Maka tak sepantasnya kita GR duluan ketika ada orang yang mencium tangan kita. Karena bisa saja alasan mencium tangan dalam pikiran dia dengan pikiran kita saat itu berbeda."

Kiai Jihad malam ini telah membantu saya dalam memahami budaya cium tangan yang berlaku di masyarakat. Tapi ia belum puas memberikan penjelasannya itu. Maka ia pun melanjutkan.

"Tentu saja masih banyak alasan lain selain keempat alasan tersebut. Dan, keempat alasan tersebut pun bisa kita variasikan antara satu poin dengan poin yang lain sehingga melahirkan poin turunan. Semua sangat tergantung dari bagaimana kita memahami dan menafsirkannya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar