Minggu, 12 April 2009

Batas Kesabaran?

Jumat, 100409

Batas Kesabaran?

Oleh: Mohamad Istihori

Kita tidak tahu seberapa luas jiwa seseorang untuk menampung sabar. Kita kadang mendengar ada orang berkata, "Kesabaran saya sudah habis!"

Padahal sebenarnya sabar itu tidak memiliki batasan. Yang terbatas dan memiliki kapasitas adalah jiwa kita untuk menampungnya.

Ibarat gelas dengan air hujan. Gelas adalah gambaran kapasitas penampungan jiwa yang terbatas. Sedangkan air hujan merupakan ilustrasi dari sabar yang tidak mengenal batasan.

Maka kesabaran seseorang itu sangat bergantung dari seberapa luaskah daya tampung sabar dalam jiwanya.

Lalu bagaimanakah cara memperluas daya tampung jiwa kita agar kesabaran kita semakin luas? Hanya satu cara yang bisa memperluas jiwa seseorang yaitu menerima dengan sepenuh hati segala ketentuan Allah yang telah Ia tetapkan.

Hanya kepasrahan sepenuhnya terhadap segala ketentuan Allah-lah yang menjadikan manusia kuat, tak terkalahkan, dan sabar dalam menghadapi berbagai macam beban dan amanat kehidupan.

Ketika manusia tidak lagi menerima segala ketentuan yang Allah tetapkan dalam hidupnya, maka jiwa manusia akan semakin sempit. Semakin kita mengeluh semakin sempit juga jiwa kita.

Jiwa yang sempit inilah yang menyebabkan manusia lebih memilih jalan singkat dan cara-cara instan lainnya untuk mencapai segala cita-citanya. Manusia berjiwa berjiwa sempit tidak akan sabaran menempuh proses-proses kehidupan dengan segala tantangan dan perjuangannya.

Bagi mereka itu hanya buang-buang waktu saja, cuma angan yang kelamaan, tidak sesuai dengan asas efektivitas manusia modern zaman sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar