Selasa, 07 April 2009

Dua Jenis Kekufuran

Jumat, 270309

Dua Jenis Kekufuran

Oleh: Mohamad Istihori

Kufur berasal dari kata, "kafaro-yakfuru-kufron," artinya mengingkari atau menutupi. Diserap oleh bahasa Inggris menjadi "cover" yang kemudian diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi sampul.

Maka tak ada salahnya, kalau secara bahasa, kita redaksikan gadis sampul menjadi "cover girl", gadis kufur, atau gadis cover. Tapi, sekali lagi, itukan secara bahasa ("lughotan").

Kufur itu sendiri terbagi menjadi dua jenis berdasarkan lawan katanya (antonimnya).

Pertama, kufur untuk lawan kata dari iman. Orang beriman adalah orang yang percaya kepada rukun iman yang enam: iman kepada Allah, malaikat, para rosul, kitab-kitab samawi, hari kiamat, dan qodho serta qodhar.

Sedangkan orang yang tidak percaya akan adanya enam rukun iman tersebut kita sebut kufur.

"Alladziina kafaruu lahum 'adzaabun syadiid. Walladziina aamanuu wa 'amilush shoolihaati lahum maghfirotun wa ajrun kabiir." (Faatir: 7).

"Bagi orang-orang kafir adalah azab yang pedih. Sedangkan bagi orang-orang beriman dan beramal sholeh adalah ampunan dan pahala yang besar." (Fatir: 7).

Kedua, kufur untuk lawan kata dari syukur. Sebagaimana firman Allah:

"Lain syakartum laaziidannakum wa lain kafartum inna adzaabii lasyadiid."

"Kalau kamu sekalian bersyukur maka sungguh Aku (Allah) akan menambah nikmat-Ku. Tapi kalau kau kufur (mengingkari nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih."

Melalui ayat ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kalau ada secuil rasa tidak mensyukuri atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, maka di situ ada unsur kufur dalam diri kita.

Kita, "insya Allah", tidak kufur karena tidak iman kepada Allah, yang paling mungkin kekufuran kita muncul karena telah tidak mensyukuri bahwa betapa banyaknya rezeki dan nikmat yang telah Allah anugerahkan dalam hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar