Senin, 06 April 2009

Mana Kebahagiaan Sejati dan Mana Kebahagiaan Imitasi?

Ahad, 050409

Mana Kebahagiaan Sejati dan Mana Kebahagiaan Imitasi?

Oleh: Mohamad Istihori

Untuk menguji kecerdasan anda, mari tentukan sendiri, manakah di bawah ini yang merupakan tolak ukur kebahagiaan bagi anda? Bedakan mana kebahagiaan sejati dan mana yang imitasi?

Pertama, ada orang yang merasa bahagia ketika dia sibuk menyebut nama-nama (asma) Allah.

Kedua, ada orang merasa bahagia ketika orang-orang meneriakkan namanya. Orang gegap gempita dan bertepuk tangan mendengar pidato dan curahan pemikirannya.

Ia merasa bahagia kalau namanya ditulis di media cetak, wajahnya masuk TV, dan namanya disebut di siaran radio.

Maka untuk meraih kebahagiaan itu dia melakukan hal-hal yang nyeleneh bahkan sampai menjaul harga diri. Punya kemaluan tapi nggak tahu malu.

Ketiga, ada orang yang merasa bahagia kalau dia bisa memberi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Karena bagi dia, "khoerunnaas anfa'uhum linnaas," sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya.

Keempat, ada orang yang menggantungkan kebahagiaannya ketika ada orang lain yang mampu memberinya sesuatu yang dia inginkan atau butuhkan.

Dengan kata lain, ia bahagia kalau sudah bisa memanfaatkan orang lain untuk kemudian ia tinggalkan dan campakkan begitu saja setelah orang itu tidak lagi mampu memberikan manfaat baginya.

Kelima, ada orang yang merasa bahagia kalau dia bisa mengerti orang lain.

Keenam, justru sebaliknya, dia merasa bahagia kalau ada orang yang mau dan bersedia mengerti dia.

Sedangkan dia sendiri tidak menunjukkan gelagat dan hasrat untuk belajar mengerti perasaan orang.

Dari sini kita bisa belajar dengan jujur kepada diri sendiri, apakah kita ini termasuk orang cerdas atau bodoh.

Atau, meminjam istilah Quraisy Shihab, kita termasuk orang yang memiliki selera rendah atau tinggi.

Menurut ulama tafsir itu, dalam Islam kecerdasan manusia diukur dari ketaatannya kepada Allah. Orang yang cerdas adalah orang yang taat kepada Allah. Sedangkan orang yang bodoh parameternya adalah ketika dia tidak taat kepada perintah Allah.

Orang yang taat dan cerdas inilah yang disebut orang dengan selera tinggi. Maka orang yang melanggar aturan Allah sebenarnya itu menunjukkan kebodohannya di hadapan Allah dan sesama manusia. Dan, menunjukkan betapa rendah selera hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar