Sabtu, 26 September 2009

Keluarga Raya Keluarga Semesta (Bag. I)

Taman Lalu Lintas (Jambore), Sabtu, 26 September 2009

Keluarga Raya Keluarga Semesta (Bag. I)

Sebuah Memori untuk Sebuah Kenangan

Lebaran tahun kemarin (2008) dan lebaran tahun ini (2009) kami sekeluarga menjadikan Taman Lalu Lintas (Taman Lalin) Jambore sebagai tempat favorit jalan-jalan kami sekeluarga. Tahun kemarin saya merasakan jalan-jalan ke Taman Lalin ada suatu keistimewaan, karena ada seorang yang menjadi harapan saya untuk jadi sahabat kehidupan saya di masa yang akan datang.

Tapi ternyata harapan tinggal harapan. Harapan telah sirna yang tertinggal hanya kenyataan. Tapi kenyataan tidak boleh disesalkan. Kenyataan harus diambil pelajaran. Dan, ternyata semenjak kepergiaannya begitu banyak pelajaran yang bisa aku dapatkan.

Pelajaran tentang kesetiaan, tentang cinta yang sungguh-sungguh dan main-main, tentang kepercayaan akan masa depan, tentang kesabaran, keikhlasan, dan ketulusan. Beribu-ribu ilmu menunggu untuk aku tuliskan. Meski ia datang pelahan-lahan dan dalam waktu yang sangat di luar dugaan.

Lebaran tahun ini di Taman Lalin Jambore pun lebih semarak. Karena banyak tetangga yang dulu hanya sebagai tetangga kini sudah menjadi saudara. Mereka bukan hanya yang beragama Islam. Tetangga yang kini sudah menjadi saudaraku juga berasal dari mereka yang beragama Kristen dan Budha.

Kami sudah tidak lagi memperdebatkan perbedaan agama. Karena yang kami nikmati bersama dari pagi sampai siang ini adalah bersama-sama naik fun car, bersepeda ria (sendiri-sendiri atau ada yang satu sepeda berdua), naik kereta, bahkan sekedar makan siang bersama (ngeriung) dengan menu utama makanan khas Betawi yaitu semur jengkol, ikan asin, sambal, dan beberapa lalap yang membuat ngeriung siang kamu semakin lahap.

Kenikmatan kebersamaan inilah yang selalu aku rindukan. Kebersamaan bersama keluarga memiliki kenikmatan yang tak ada duanya dan tak tertandingi. Karena aku sangat tahu ada beberapa sahabat yang tidak bisa menikmati kebersamaan kekeluargaan seperti kami. Bahkan mereka "dibuang" dan "dikucilkan" karena dianggap sebagai the problems maker bagi keluarga besarnya, sumber masalah, dan pelaku problem dalam keluarga.

Aku sangat berharap bagi sahabat-sahabatku yang belum merasakan nikmatnya kebersamaan bersama keluarga di hari raya Idul Fitri semoga segera diberikan anugerah kewarasan dan kesehatan lahir batin. Keluarga adalah segalanya. Tidak ada gunanya harta yang melimpah jika hidup kita tanpa keluarga.

Keluarga Raya Keluarga Semesta

Namun marilah kita mulai perluas pengertian kita tentang keluarga. Bahwa keluarga bukan hanya ibu, bapak, anak, keponakan, sepupu, kakek, nenek, dan siapa saja yang memiliki hubungan nasab dengan kita. Dalam Islam, misalnya, orang tua kita ada tiga: pertama, bapak-ibu yang melahirkan kita. Kedua, guru yang mengabdikan ilmunya untuk kita. Dan, ketiga, mertua kita.

Jadi dalam Islam hubungan persaudaraan atau kekeluargaan tidak selalu dilihat dari nasab. Keluarga dalam Islam bukan hanya keluarga besar kita saja, the big family, tapi kekeluargaan dalam Islam sudah melampaui itu semua, kekeluargaan dalam Islam lebih luas dari keluarga besar karena kekeluargaan dalam Islam adalah keluarga raya keluarga semesta.

Hubungan keluarga yang tidak mengenal transaksi untung-rugi karena dasarnya adalah keikhlasan dan ketulusan.

Hubungan keluarga kami tidak ada judulnya berjalan atas dasar asas saling memanfaatkan, misalnya yang perempuan memanfaatkan kekayaan sang suami tanpa peduli seburuk apa wajah suaminya, segede apa ambeknya, sehancur apa akhlaknya, dan urusan cinta dan sayang urusan nomor 18 karena pertama dan utama adalah harta, harta, dan harta.

Atau yang lelaki memanfaatkan kecantikan atau nasab istrinya untuk kenaikan pangkatnya di kantor atau agar derajat sosialnya menjadi lebih baik di pandangan umum masyarakat yang masih awam dan bodoh alias bebal.

Keluarga kami berjalan atas dasar saling percaya. Jadi tidak perlu tanya-tanya soal kepercayaan dan cinta. Karena pembuktian cinta kami bukan pada kata tapi pada realita.

Adapun kalau ada saling berbagi rezeki itu bukan karena yang memberi merasa lebih kaya, merasa lebih sukses kehidupan dunianya, merasa perekonomiannya lebih maju sehingga yang memberi merasa lebih merasa dihormati dan dilayani oleh keluarga yang menerima pemberiannya. Beri-memberi, termasuk materi, dalam keluarga kami hanya sebagai salah satu cara dan alat untuk saling mengembirakan bukan tujuan menggembirakan.

Artinya kalau kami sedang tidak punya materi untuk saling dibagi kami masih punya banyak metode untuk saling membahagiakan. Karena keluarga raya keluarga semesta kami tidak bergantung pada materi. Justru materilah yang sangat bergantung pada kebersamaan kami.

Kami memiliki banyak metode, cara, jurus, dan resep-resep yang kami gali dari pengalaman hidup kami bersama yang kemudian kami olah untuk menghibur, menggembirakan, dan memotivasi satu sama lain.

Di antara metode yang aku rasa paling ampuh selain materi yang bisa membahagiakan kami adalah humor. Keluarga kami adalah keluarga yang suka ngebanyol, becanda, dan humoris. Bagi mereka yang belum akrab pasti mengira keluarga kami tidak diajarkan sopan santun. Karena kami begitu akrab sehingga yang tua tidak sok-sokan di depan yang lebih muda, nggak jaim, ngomongnya blak-blakkan, apa adanya, nggak dibuat-buat, dan gayanya spontan khas Orang Betawi asli

Dan, yang muda tidak sungkan untuk ngeledek yang tua, ngecengin, ngeledek, dan nyindir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar