Minggu, 27 September 2009

Konselor (Konsen Molor) atawa Abu Nawwam (Bag. II)

Cibitung, Ahad, 27 September 2009

Konselor (Konsen Molor) atawa Abu Nawwam (Bag. II)

...

Dan, akhirnya saya pun harus naik angkot lagi deh dari Pasar Ciputat ke Kampus karena kelewat.

Maka tak heran kalau beberapa teman memberi julukan dan gelar kepada saya Abu Naum (alias tukang tidur). Saya membantahnya dengan keras. Saya benar-benar menolak julukan dan gelar itu. Karena yang benar secara bahasa saya ini bukan Abu Naum (Tukang Tidur) tapi saya ini Abu Nawwam (Tukang Molor).

"Makanya kalau ngaji ilmu alatnya masih tingkat Jurumiyah atau Al Fiyah mah jangan coba-coba ngatain saya! Jangan coba-coba bermain kata dengan bilang saya ini orang aneh! Kalau mau belajar ilmu alat yang lebih tinggi dulu."

Mendengar ucapan saya yang penuh kesombongan itu Kiai Jihad naik pitam. Dia marah bukan main. Padahal saya mengucapkannya dalam hati.

Dan, saya lupa kalau Kiai Jihad punya ilmu yang mampu mendengar apa saja yang terucap oleh hati saya.

"Kamu kalau dikasih kesempetan ngomong dikit aja udah mulai ngaco. Udah sono molor aja molor!" bentak Kiai Jihad dengan amarahnya yang sungguh mempesona hati siapa saja yang mampu menikmatinya.

"Dasar orang aneh!" tambah Kiai Jihad menirukan komen salah satu teman FB saya di status saya hari ini.

Saya pun segera molor. Dan, dalam molor itu saya bermimpi menemukan sebuah pohon yang memiliki beraneka ragam daun ilmu.

Ada daun ilmu psikologi, sosiologi, antropologi, filsafat, alat, tafsir, seni, dan beraneka ragam ilmu yang tak bisa saya sebutkan semuanya. Tapi yang pasti buahnya adalah pengalaman dan pengamalan.

Pada pohon itu aku menemukan tulisan yang sudah pasti tidak asing lagi. "Al ilmu bilaa 'amalin kasyajarin bilaa tsamarin." "Ilmu yang tanpa pengamalan dan pengalaman seperti pohon tanpa buah."

(Seperti hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga. Aduhai begitulah kata Para Pujangga).

Dedaunan ilmu pengetahuan yang saya dapat dari mimpi molor saya itu kemudian saya lalap dengan "sambel facebook", "sambel blog", atau "sambel buku harian" saya.

Dan, setelah melalap dan melahap lalap-lapan ilmu pengetahuan itu dijamin molor saya semakin pulas. Pokoknya melebihi kenikmatan tidur manusia mana pun termasuk tidurnya Ashabul Kahfi yang tertidur ratusan tahun di dalam goa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar